1. Yossy Girsang
  2. Lanjutan
  3. Rumor yang menggoda

Artikel

9Jun 2016

Rumor yang menggoda

Akhirnya beres juga, Selly pun keluar dari ruangan Customer Service salah satu pialang atau perusahaan sekuritas di Jakarta Pusat. Ia puas dengan pelayanan yang diberikan, cukup 30 menit proses pendaftaran rekening/account saham atas namanya selesai. Sebelum pulang, CS yang bertugas memberitahu bahwa accountnya akan aktif dalam 1 minggu ke depan.

Sebenarnya Ia sudah tidak sabar untuk bisa segera bertransaksi, namun karena harus menunggu, ia pun berencana untuk mencari informasi sebanyak mungkin mengenai saham apa yang bagus untuk dibeli.

Selly memutuskan untuk mulai berlangganan surat kabar nasional mengenai keuangan, ia juga mencoba mencari informasi tentang saham lewat internet. Dia menemukan beberapa mailing list atau group email khusus saham. Tak lupa dia juga berusaha menonton diskusi tentang saham di TV berbayar di pagi hari maupun malam sepulang dari kantor.

Setelah seminggu, akhirnya account saham yang ditunggu-tunggu kelar juga, kini Selly sudah memiliki akses untuk transaksi jual beli saham. Dengan tidak sabaran, ia langsung mencoba-coba online trading yang bisa diakses lewat komputernya sambil membaca panduan yang diberikan perusahaan sekuritasnya.

“Hmm, Beli saham apa ya?”

Dia pun membuka dan membaca email yang tadi pagi dikirimkan oleh analyst perusahaan sekuritas tempat Selly membuka account. Ada 6 saham yang direkomendasikan untuk dibeli (buy) dan email itu kebanyakan berisi kalimat berpeluang dan berpotensi. Duh, mana yah yang paling bagus, uang saya yang 10 juta ini apa dibelikan 1 saham saja atau dibagi rata ke-6 saham saja?

Hmm, tunggu dulu, kok di mailing list saham gak ada yang bahas 6 saham ini ya, kebanyakan malah member ramai membicarakan saham perbankan yang katanya hingga akhir tahun akan meraup laba besar.
Eh sebentar, di twitter tadi saya baca kayanya ada yang mention beli saham telekomunikasi saja, katanya lagi murah banget harganya.
Tapi, kemarin malam di TV ada diskusi dengan analis saham terkenal, sarannya kurang lebih sama dengan yang di mailing list yaitu saham perbankan.

Yah sudah deh, 2 sumber bilang lebih baik saat ini beli saham perbankan, ok coba beli 2 lot (1000 lembar) dulu, pikir Selly demikian, tuing, keluar notifikasi transaksi “Anda telah membeli 2 lot saham BBSI.” (kode saham hanya contoh).

Sip! Mudah-mudahan naik nih, ia mulai membayangkan keuntungan yang akan dia peroleh nantinya.
Lalu Selly melanjutkan kerjanya menyiapkan beberapa laporan untuk bosnya. Selang 1 jam sibuk bekerja di depan komputer, ia tergoda untuk login kembali untuk melihat apakah sahamnya sudah naik. Eh, kok sekarang warnanya merah? minus 0.75%? Duh, gimana ya ini? Tadi sih, analis sahamnya bilang kalau sudah turun 2% baru dijual. Biarin dulu aja deh.

Jam 15.30, Selly masih penasaran, ia login lagi di web sekuritas untuk melihat kembali kondisi sahamnya, apa sudah naik dan balik ke harga awal dia beli? Loh, kok malah minus 2.5%? Gawat, jual gak nih? Tapi kalau dijual rugi hampir 200 ribu rupiah. Ah sudahlah biar saja lihat besok aja. Selly pun menutup layar accountnya.
Malam harinya Selly gak bisa tidur nyenyak, ia masih terus memikirkan saham bank yang dibelinya tadi.

Pagi hari pukul 09.00, dia sudah gak sabar untuk membuka accountnya dan melihat harga saham bank yang dibelinya kemarin.

Di surat kabar keuangan pagi, ia sempat membaca satu kolom yang memprediksi bahwa IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) berpotensi untuk turun karena keluarnya laporan inflasi yang cukup tinggi di bulan ini. Selly semakin khawatir dan takut saham yang dibelinya akan ikut turun lagi dari yang sudah minus 2.5% sehari sebelumnya.

Ternyata benar, saham bank yg dimilikinya turun hingga 3.5% hanya dalam waktu setengah jam transaksi BEI dibuka, artinya total kerugian yang ia derita sudah mencapai 6% dari harga beli. Tangannya gemetaran dan berkeringat, dia langsung meminum air putih yang ada di mejanya, berusaha menenangkan perasaannya.

“Aduh, kok gak aku jual aja yah kemarin?” Sekarang sudah rugi hampir 500 ribu rupiah, harusnya ikutin aja pesan analis dari TV yg kemarin, kalau sudah rugi 2% ya harusnya dijual!
Tapi, yah khan karena ngikutin rekomendasi analis itu juga sih, makanya aku beli saham ini!! Awas yah, besok-besok gak mau lagi ngikutin omongan analyst itu, tak catet deh namanya, bikin sesat aja, saham mau turun kok disuruh beli.

Cerita di atas sebenarnya tidak hanya dialami oleh Selly, ada banyak pelaku pasar modal juga mengalami hal yang sama, mungkin salah satunya adalah Anda?

Tidak ada yang salah dengan banyaknya informasi tentang saham yang berseliweran di sekitar kita setiap harinya, bagaimanapun dengan perkembangan teknologi informasi belakangan ini, sangat mudah buat Anda mengakses dan memperoleh informasi mengenai pasar saham.

Dan tidak bisa dipungkiri bahwa ketika semakin banyak informasi yang Anda terima apalagi bercampur antara rumor dan fakta, maka mau tidak mau psikologi akan ikut terpengaruh, yang sering mengakibatkan keputusan untuk membeli dan menjual saham menjadi subjektif karena kebanyakan datang dari pandangan dan pendapat orang lain bukan analisa sendiri. Kalau pas kebetulan untung sih masing gak akan masalah, namun sayangnya kok kayanya malah lebih sering rugi ya, lalu menyalahkan orang yang memberi rekomendasi karena membuat Anda rugi.

Ada 3 tips sederhana buat Anda yang pernah mengalami hal ini:

1. Luangkan waktu Anda untuk membaca buku-buku mengenai investasi saham. Saya pribadi sangat menyarankan agar Anda terlebih dahulu membaca buku, barulah kemudian membuka rekening investasi saham, hal ini dilakukan untuk menghindari Anda terpancing membeli sesegera mungkin. Karena biasanya untuk Anda yang baru memulai, sangat tidak suka melihat uang di rekening nya masih dalam bentuk cash, maunya dibelikan saham semua, takut ketinggalan kereta.

2. Hindari informasi yang berisi rekomendasi saham apalagi yang berbau rumor, biasanya informasi itu akan diikuti dengan kalimat-kalimat sebagai berikut: berpeluang, berpotensi, dikabarkan, berencana, dan kalimat-kalimat lainnya yang berisi informasi yang masih belum pasti. Fokuslah pada laporan keuangan perusahaan yang sahamnya akan Anda beli atau informasi yang disampaikan oleh bagian investor relation/humas dari perusahaan. Link nya sebagai berikut: http://www.idx.co.id/id-id/beranda/perusahaantercatat/laporankeuangandantahunan.aspx

3. Jangan memonitor saham terlalu sering, ingat bahwa tujuan Anda membeli saham adalah untuk investasi jangka panjang. Cukup sekali 2 minggu atau sekali sebulan bahkan sekali dalam 2 bulan. Online trading memang punya keuntungan dimana Anda bisa membeli saham apapun, kapanpun dan dimanapun Anda berada selagi masih ada jaringan internet, namun ada efek samping yaitu pada psikologis kita sebagai investor. Terlalu sering melihat saham yang sudah dibeli, akan memancing Anda untuk berspekulasi, mengharapkan keuntungan dengan jual beli dalam waktu singkat. Anda tentunya paham bahwa sebagai pemula, itu justru berbahaya dan dapat mengakibatkan kerugian yang besar dalam waktu singkat pula.