1. Yossy Girsang
  2. Lanjutan

Lanjutan

15Mar 2018

Krisis keuangan justru menjadi kesempatan terbaik untuk seorang Investor Saham, Mengapa?

Screen Shot 2018-03-15 at 23.05.00

Apakah Anda masih ingat krisis ekonomi tahun 2008?, ketika panik jual terjadi di seluruh pasar saham dunia. Saya masih ingat hingga sekarang karena pada waktu itu saham perusahaan yang saya miliki juga turun signifikan. Sehingga wajar saja trauma itu masih terbayang di alam bawah sadar para pelaku saham. Kalau Anda ikut mailing list pada waktu itu, Anda akan membaca banyak sekali email yang berisi kekecewaan dan negative word karena bisa dikatakan hampir semua orang merasakan rugi yang tidak sedikit, termasuk saya.

Krisis finansial tidak mudah diprediksi, bahkan saat ini di tahun 2018, ada yang mengatakan akan mengalami krisis seperti tahun 2008, ada juga yang mengatakan tidak dengan alasan dan analisa masing masing yang menurut saya sah sah saja. Tapi saya pribadi selaku Investor Saham yang berpegang pada intrinsic value, justru melihat bahwa krisis adalah kesempatan besar untuk meraih keuntungan besar di masa depan, karena ketika banyak orang yang ikut menjual karena panik justru pada saat itulah kita bisa menemukan dengan mudah harga saham yang terdiskon atau jauh di bawah intrinsic value. Kejadian 2008, saat itu saya diuntungkan karena memperoleh cash yang lumayan besar dari penghasilan lain yang tidak bisa saya jelaskan ini. Sehingga pada waktu itu saya berkesempatan membeli saham yang terdiskon. Namun yang perlu dicatat, setelah saya beli pun di harga yang lebih murah dari intrinsic value, ternyata harga saham masih saja turun, seingat saya sekitar 20%-an dari setelah saya beli. Dan ini wajar saja terjadi, karena tidak satu orang pun dari kita yang bisa tahu seberapa dalam harga saham bisa turun. Yang penting kita tetap berpegang pada intrinsic value, bahwa ketika kita sudah beli di bawah intrinsic value, dan harga saham masih turun, kita tidak perlu khawatir.

Pada waktu 2008 itu, saya berusaha untuk tetap tenang, walau tidak mudah. Ada satu alasan kuat yang menyebabkan saya bisa tenang pada waktu itu.

Yaitu, memang sebelum terjun ke dunia investasi saham saya sudah cukup banyak membaca buku buku tentang value investor terutama filosofi yang disampaikan oleh Warren Buffett sebagai Investor Saham terbaik sepanjang masa. Salah satu pesan dari salah satu buku yang saya baca adalah, jauhkan dirimu dari hiruk pikuk pasar saham, terutama hindari berada di lingkungan para pelaku pasar saham yang mudah panik dan cepat sekali merespond situasi pasar secara berlebihan. Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih untuk tinggal di Bali, bahkan di daerah yang cukup sepi, agar saya bisa berpikir rasional dan tetap tenang.

Sudah jauh dari hiruk pikuk pasar saham juga tidak mudah untuk tidak tergoda untuk mengikuti kondisi psikologi market, karena saat ini jaringan komunikasi lewat social media sudah murah dan mudah. Contohnya beberapa minggu yang lalu ketika iHSG turun cukup signifikan, sudah banyak dari rekan-rekan saya yang bertanya baik telepon maupun whatsup menanyakan apakah harga saham sudah murah atau apakah akan terjadi penurunan lagi dsb. Yang mau gak mau memancing saya untuk kembali mengecek kondisi market waktu itu.

Panik itu ternyata secara psikologis bisa menular. Hal ini dikonfirmasi oleh Tim peneliti dari Cumming School of Medicine’s Hotchkiss Brain Institute (HBI), University of Calgary yang menemukan fakta bahwa stress berupa kecemasan/panik bisa menular melalui interaksi sosial. Hal ini terjadi akibat dari aktivitas neuron CRH yang menyebabkan pelepasan sinyal kimiawi sehingga terjadi proses penularan ke pihak lain yang turut mendengar dan merasakan kondisi emosional tersebut. Itulah mengapa, ketika krisis tahun 2008 terjadi, banyak pelaku pasar saham yang walaupun sudah lama berada di pasar saham, tetap saja ikut menjual sahamnya di harga yang murah karena takut harganya akan turun lagi.

14Mar 2018

Masihkah Generasi Muda punya mimpi?

Screen Shot 2018-03-14 at 12.38.20

Topik kali ini agak serius sedikit, namun buat rekan-rekan yang sudah menjadi orangtua seperti saya dan aware dgn tantangan masa depan anak-anak kita, ada baiknya menonton video presentasi Christine Lagarde, Managing Director IMF di event World Economic Forum 2018 dengan judul: Young People Might Not Recover, A Dream Deferred.

Saya berusaha menterjemahkan seluruh content yg disampaikan dalam bahasa Indonesia, semoga membantu.

Ke depan, saya akan membahas lebih mendalam dan dgn bahasa lebih sederhana di artikel yossygirsang.com mengenai beberapa point penting dalam presentasi ini dan strategi apa yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan setidaknya untuk anak-anak kita yg berkaitan dengan keuangan.
Karena dari IMF lebih banyak memberikan solusi di level policy maker (pemerintah).

————————————————————————————————————————————————————————

Penyair Langston Hughes pernah bertanya, “Apa yang terjadi dengan MIMPI yang TERTUNDA?” Ini adalah pertanyaan yang relevan bagi jutaan orang di seluruh dunia saat ini, terutama generasi muda, karena ketidaksetaraan dan kemiskinan.
Pekan ini, IMF meluncurkan penelitian baru yang fokus pada Uni Eropa yang menyoroti dampak pengangguran dan konsekuensi jangka panjang dari perlindungan sosial yang tidak memadai terhadap kaum muda. Studi ini juga membahas gagasan yang dapat membantu memperbaiki masalah dan mengurangi ketidaksetaraan dan kemiskinan bagi generasi penerus.
Eropa tentu bukan satu-satunya wilayah di mana orang muda menghadapi hambatan ini. Namun, karena keterbatasan data pada kelompok usia selama beberapa tahun terkahir maka kita baru dapat melihat lebih dekat ke Eropa.
Sekilas, ketidaksetaraan tampaknya tidak menjadi ancaman besar di Eropa seperti di tempat lain. Ketidakseimbangan pendapatan rata-rata tetap stabil sejak tahun 2007. Hal ini sebagian besar berkat jaring pengaman sosial dan redistribusi yang kuat, pencapaian penting yang telah membantu jutaan orang dan memperkuat posisi Eropa dibandingkan dengan banyak negara maju lainnya.
Di bawah angka topline, bagaimanapun, ada kecenderungan mengkhawatirkan: kesenjangan antara generasi di Eropa telah melebar secara signifikan. Orang usia kerja, dan terutama generasi muda, jauh tertinggal.
Tanpa tindakan, generasi mungkin tidak akan bisa pulih.
Bagaimana kita bisa sampai disini?
Apa yang telah mendorong ketidaksetaraan antar generasi di Eropa? Meskipun ada banyak dimensi ketidaksetaraan – termasuk kekayaan dan jenis kelamin – studi kami fokus terutama pada INCOME (penghasilan).
Penghasilan untuk generasi muda menurun setelah krisis 2007 karena pengangguran. Walau sudah pulih, namun belum bertumbuh. Padahal penghasilan generasi tua di atas 65 tahun meningkat sebesar 10 persen karena dana pensiun yang sudah terproteksi lebih baik.
Melihat pasar kerja, kita bisa melihat dimana masalah berada. Pengangguran usia muda mulai tinggi dan melonjak 24 persen di 2013. Saat ini, hampir satu dari lima pemuda di Eropa masih mencari pekerjaan.
Penelitian IMF menunjukkan bahwa pengangguran dapat meninggalkan “bekas luka”: biasanya setelah lama menganggur dan pengalaman yang terbatas, generasi muda cenderung tidak mau mencari pekerjaan. Kalaupun mereka mendapatkan pekerjaan, kemungkinan hanya akan di pekerjaan dengan upah rendah.
Generasi muda memiliki utang yang paling tinggi terhadap aset mereka dibanding semua kelompok umur. Ini berarti bahwa mereka lebih rentan jatuh miskin jika terjadi krisis ekonomi. Sehingga pada akhirnya mereka tidak hanya menunda mimpi-mimpinya bahkan mengubur mimpi tersebut.
Namun masalah income hanya satu bagian cerita: masalah lain adalah kemiskinan
Semakin rendah Penghasilan, semakin banyak terjadi kemiskinan
Sebelum krisis ekonomi global 2008, perbandingan kemiskinan antara generasi muda (18-24) dan generasi tua (65 +) di Eropa masih hampir sama. Namun sejak krisis, kesenjangan semakin terlihat jelas. Sebagai konsekuensinya, satu dari empat generasi muda berisiko mengalami kemiskinan – hidup dengan penghasilan di bawah 60 persen dari rata-rata.
Bukan hanya masalah pengangguran yang membawa kondisi ini. Tetapi juga pekerjaan dengan Upah rendah dan sistem kontrak juga menjadi pemicu masalah.
Munculnya apa yang disebut “Gig”ekonomi, dimana pekerja bertanggung jawab pada dirinya sendiri dengan berbagai pekerjaan paruh waktu (atau freelance) yang tidak menyediakan manfaat dasar seperti asuransi kesehatan & pensiun (contoh Uber driver), memperburuk masalah dan semakin memicu kondisi bekerja yang tidak stabil, terutama bagi generasi muda. Sayangnya, saat mereka harus kehilangan pekerjaan atau hanya bisa menemukan pekerjaan paruh waktu, mereka ditinggalkan tanpa jaring pengaman yang memadai seperti asuransi kesehatan.
Perlindungan sosial yang tidak memadai
Selain masalah pendapatan dan pasar tenaga kerja ini, setelah krisis, manfaat sosial non-pensiun seringkali dibatasi, dan terkadang juga tidak terindeks pada inflasi. Sehingga kurang efektif untuk generasi muda.
Supaya lebih jelas lagi: program pensiun dan jaminan sosial telah membantu jutaan orang sebelum dan sejak krisis. Secara khusus, warga generasi senior di Eropa telah terlindungi dengan baik – yang seharusnya terus dilanjutkan. Tapi pada saat bersamaan, kita juga membutuhkan kebijakan yang lebih memperhatikan generasi muda dan cocok dengan sifat pekerjaan yang sudah berubah saat ini.
Kabar baiknya adalah beberapa negara di Eropa sudah menunjukkan kemajuan.
Di Jerman, magang dan program pelatihan yang telah lama ada telah membantu generasi muda untuk bertahan di dunia kerja. Aturan kerja fleksibel memungkinkan mereka untuk mempertahankan pekerjaan mereka selama dan setelah krisis. Pemuda Jerman sekarang memiliki tingkat pengangguran terendah di negara Uni Eropa manapun.
Contoh bagus lainnya adalah Portugal, yang membebaskan orang yang baru pertama kali bekerja dari pajak jaminan sosial selama tiga tahun.
Langkah selanjutnya untuk generasi muda
Jadi, apa yang seharusnya pembuat kebijakan atau pemerintah lakukan? Kami menawarkan beberapa gagasan yang dapat membantu mengurangi ketidaksetaraan dan kemiskinan antar generasi di Eropa.
Pertama, lihatlah pasar tenaga kerja. Untuk menciptakan lapangan kerja dan memberi insentif kepada pekerjaan, pembuat kebijakan dapat mengurangi kontribusi jaminan sosial dan pajak pekerja dengan upah rendah. Untuk membantu memperbaiki prospek pekerjaan di masa depan, pemerintah dapat berinvestasi dalam pendidikan dan pelatihan, yang dapat membantu generasi muda menutup kesenjangan skill atau keterampilan.
Kedua, Negara dapat membuat budget pemerintah untuk perlindungan sosial lebih efektif. Bagaimana? Sebagian dari jawabannya adalah menyesuaikan belanja sosial, terutama pengangguran dan manfaat non-pensiun lainnya, untuk memastikan generasi muda lebih terlindungi jika terjadi kehilangan pekerjaan.
Ketiga, Pajak. Pajak kekayaan sekarang lebih rendah daripada tahun 1970. Di beberapa negara, sistem perpajakan yang lebih progresif dan pajak kekayaan (termasuk pajak warisan) dapat membantu mendanai program sosial yang sangat dibutuhkan bagi warga yang lebih muda.
Biarkan saya menggarisbawahi lagi: ini bukan tentang satu kelompok usia dibandingkan yang lain. Membangun ekonomi yang bekerja untuk generasi muda menciptakan fondasi yang lebih kuat bagi semua orang. Generasi muda dengan karir produktif dapat berkontribusi pada jaring pengaman sosial. Dan mengurangi ketidaksetaraan antar generasi berjalan seiring dengan menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan membangun kembali kepercayaan di dalam masyarakat.
Semua ini tidak mudah. Kebijakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara, mengenali realitas politik, dan bertahan dalam anggaran.
Tapi tidak ada keraguan bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk bertindak – “waktu untuk memperbaiki atap adalah saat matahari bersinar.”
Dengan pertumbuhan global yang lebih kuat, dan pemulihan di Eropa, kita memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal sulit yang jika tidak bisa dibatalkan. Kita bisa merancang kebijakan yang akan memungkinkan generasi penerus untuk mewujudkan potensinya. Kita bisa membantu menyembuhkan bekas luka krisis, dan kita bisa memastikan generasi penerus tidak perlu mengajukan pertanyaan: “Apa yang terjadi dengan mimpi yang TERTUNDA?”
9Mar 2017

Gak perlu IQ tinggi untuk bisa berinvestasi

15940636_1423719894305391_5521939106261852320_n

Bu Silvi, pekerjaannya saat ini sebagai ibu rumah tangga, mengurusi suami dan kedua puteranya yang lucu-lucu berusia 5 tahun dan 2 tahun. Suaminya Pak Arsya bekerja sebagai kepala cabang Bank swasta di Bandung. Sebelum menikah, mereka memang sudah sepakat membagi tugas dan peran masing-masing dimana Pak Arsya fokus di luar rumah mencari nafkah untuk keluarga sedangkan Bu Silvi fokus mengawasi anak-anak dan segala keperluan keluarga mereka di rumah.

Pak Arsya sudah lama mengenal pasar saham, hampir 6 tahun sejak dia mulai bekerja sebagai karyawan di Bank tersebut. Dia belajar dari sepupunya yang juga sudah sangat lama terjun di pasar saham.

Di Januari tahun 2012 yang lalu, Pak Arsya melihat bahwa sudah sudah saatnya istrinya bu Silvi diperkenalkan dengan saham, pikirnya sekalian istrinya ada kegiatan lain yang positif dan bisa menghasilkan uang. Oleh karena itu, Pak Arsya berinisiatif di januari akhir membuka rekening investasi saham untuk istrinya di perusahaan sekuritas yang sama dengan akunnya sendiri dengan modal 10 juta rupiah.

Ketika akun itu sudah jadi, Pak Arsya pun mulai mengajari istrinya mengenai saham mulai dari cara bertransaksi, bagaimana memilih saham, kapan menjual dan membeli saham. Bu Silvi sebenarnya sangat tertarik untuk mendalami tentang investasi saham ini. Namun kadang kendalanya adalah waktu, sering kali ketika dia hendak melihat pergerakan harga saham di laptopnya, anak sulungnya langsung datang dan meminta untuk bermain game di laptop ibunya. Pagi dia disibukkan dengan kegiatan mengantar anaknya yang pertama ke TK, masak dan bersih-bersih rumah, siang jemput lagi, dan sore memandikan anaknya lalu mengajak mereka bermain sebelum suaminya tiba di rumah untuk mereka makan malam bersama.

Praktis sebenarnya Bu Silvi gak punya waktu untuk mendalami pengetahuannya tentang investasi saham, akhirnya dia punya bertanya ke suaminya,” Pak, saham bagus yang bapak punya apa saja? Ntar ibu ikut aja deh dulu, soalnya belum sempat nih untuk baca-baca dan cari tahu saham yang bagus apa saja.”

Pak Arsya pun menjawab bahwa saat ini dia sedang tertarik dengan saham Unilever (UNVR).

“Ooo begitu ya Pak, itu khan perusahaan besar ya Pak dan terkenal?”

“Ya bu, Unilever Indonesia selalu mencetak laba bersih setiap tahun, perusahaan bagus itu”, demikan kata suaminya.

Esok paginya ketika pasar saham sudah buka tanpa memberitahu suaminya, Bu Silvi langsung membelikan beberapa lot saham UNVR di harga 20,000 rupiah per lembar, tepatnya hari itu tanggal 30 Maret 2012 ketika hari ulang tahun anaknya yang kedua.

Di Mei 2012, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, ternyata kabar baik datang pada keluarga itu, Bu Silvi positif hamil calon anaknya yang ketiga. Mereka sangat berbahagia karena memang Pak Arsya dan Bu Silvi berharap mereka akan memiliki anak ke-3, semoga saja perempuan berhubung anak pertama dan kedua sudah laki-laki, biar Bu Silvi nantinya punya teman anak perempuan di rumah. Sehingga selama hamil hingga melahirkan, dikarenakan mengurus rumah dan ke-3 anaknya walau dibantu seorang Emak pembantu rumah tangga, Bu Silvi tidak sempat lagi memonitor pergerakan saham kalbe farma yang dibelinya di bulan Maret 2012 yang lalu.

Hari ini tepat tanggal 10 Maret 2017, keluarga itu lagi santai sambil menikmati pisang goreng dan teh manis di ruang nonton.

Pak Arsya iseng bertanya: “Gimana bu sahamnya? Udah beli apa saja?” Sebenarnya Pak Arsya pasrah saja jika nantinya Bu Silvia bilang bahwa dia merugi, pikirnya “Namanya juga orang baru belajar saham wajarlah kalau merugi.”

“Oalah pak, Ibu baru ingat, dulu itu setelah Bapak bilang kalau saham Unilever bagus, langsung besoknya pas ulang tahun anak kita Ibu beli saham itu, kalo gak salah di harga 20,000 rupiah.

Pak Arsya:” Oh ya?? Trus udah dijual?

Bu Silvi: “Belum Pak, gak sempat ngurusin sahamnya, tau sendiri khan Ibu masih fokus ngurusin anak-anak kita.”

Pak Arsya:” Wah wah wah, sekarang harganya sudah 42,300 loh bu, berarti sudah naik lebih 111%-an sejak ibu beli 5 tahun yang lalu!!!!

Bu Silvi hanya melongo lalu bilang: “Masa sih Pak????”

Dan tahukah Anda, kenapa Pak Arsya sangat terkejut? Soalnya Pak Arsya juga membeli saham yang sama, saham yang dia sarankan ke istrinya, tapi keuntungan nya di saham ini tidak sebaik yang dimiliki bu Silvi, karena apa? karena Pak Arsya sering melakukan jual beli dalam waktu pendek, ketika sudah untung sedikit 3-5% langsung dijual, padahal saham tsb masih naik lagi. Akhirnya keuntungan bersih Pak Arsya dari jual beli saham UNVR ini gak lebih dari 35% selama 5 tahun karena dia juga sering salah timing beli dimana setelah beli harganya saham itu malah turun sehingga dia langsung jual sahamnya merugi, padahal cuma turun sedikit, istilah kerennya cutloss.

Pertanyaannya? Loh kok bisa ya, seorang ibu rumah tangga seperti Bu Silvi yang jelas-jelas pemahaman sahamnya tidak sebaik suaminya bisa memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar dari suaminya? 111% vs 35% keuntungan mereka selisih 76% selama 5 tahun.

Dalam kesempatan ini saya hendak menyampaikan bahwa, untuk mencari saham perusahaan bagus itu sebenarnya relative mudah, Anda juga bisa mengetahui informasi ini dari banyak sumber. Tapi kenapa hasil setiap orang di saham yang sama bisa berbeda? Banyak orang berpikir bahwa hanya orang-orang pintar saja yang bisa berhasil dalam investasi saham, padahal faktanya gak seperti itu. Memang kalau IQ tinggi akan membantu Anda lebih cepat memahami saham, namun kalau bicara sukses dalam investasi saham masih ada faktor lain yang lebih dominan. Apa itu? Faktor psikologi yaitu Kesabaran.

Bersabar untuk mau menyimpan saham perusahaan bagus yang Anda punya dalam waktu yang lebih lama bertahun tahun. Dimana kebanyakan dari para pelaku saham saat ini lebih senang melakukan jual beli saham dengan alasan agar hasilnya maksimal dan cepat dapat untung, padahal belum tentu seperti itu.

 

9Mar 2017

Pahami Laporan Keuangan sebelum membeli saham perusahaan

Financial-Statement-Assignment-Help

Sebelum memutuskan untuk memilih saham mana yang akan Anda pilih, maka Anda harus mengenali perusahaan tersebut apakah management perusahaan mengelola dengan baik atau tidak.

Lewat apa? Salah satu yang wajib dilakukan oleh Investor adalah membaca Laporan Keuangan perusahaan.

Apa itu Laporan Keuangan?

Dari namanya saja, saya kira definisi sudah jelas yaitu catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode.

Tujuannya untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan terutama para Investor, jadi bisa juga sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan oleh Investor kepada mereka.

Perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia diharuskan untuk mengumumkan Laporan Keuangannya setiap 3 bulan sekali atau per kuartal.

Darimana Anda bisa peroleh Laporan Keuangan tersebut?

Dari website Bursa Efek Indonesia, linknya sudah saya berikan di bagian INFO di website ini atau untuk mudahnya klik saja:

http://www.idx.co.id/id-id/beranda/perusahaantercatat/laporankeuangandantahunan.aspx

Anda tinggal memasukkan nama perusahaan atau kode perusahaan di kolom “Masukkan Kode”, pilih tahun dan periode, langsung klik tombol CARI… dapat deh Laporan Keuangan perusahaan yang Anda inginkan dalam bentuk pdf file. Anda tinggal buka, dan bisa disimpan juga di komputer Anda.

 

Di dalam Laporan keuangan terdapat 3 hal utama yang perlu Anda perhatikan:

1. Neraca

2. Laba Rugi

3. Arus Kas

Sebenarnya konsep Laporan Keuangan ini sudah diajarkan pada waktu dulu kita duduk di bangku SMA yaitu pelajaran akuntansi. Namun kalau Anda sudah lupa, saya sarankan belilah buku di toko buku atau baca di internet mengenai cara membaca Laporan Keuangan, sudah banyak kok versi mudahnya.

Sedikit memberikan gambaran:

Neraca atau laporan posisi keuangan ( balance sheet atau statement of financial position)  terdiri dari tiga unsur, yaitu aset, liabilitas, dan ekuitas yang dihubungkan dengan persamaan akuntansi berikut:

  • aset = liabilitas + ekuitas

Informasi yang dapat disajikan di neraca antara lain posisi sumber kekayaan entitas dan sumber pembiayaan untuk memperoleh kekayaan entitas tersebut dalam suatu periode akuntansi (triwulanan, caturwulanan, atau tahunan)

Laporan laba rugi ( Income Statement atau Profit and Loss Statement) menjabarkan unsur-unsur pendapatan dan beban perusahaan sehingga menghasilkan suatu laba (atau rugi) bersih

Laporan arus kas ( cash flow statement atau statement of cash flows) menunjukkan aliran masuk dan keluar uang (kas) perusahaan

9Jun 2016

Gaya hidup Miliarder Dunia

Sumber: detik.com

Percaya atau tidak, tidak semua Miliarder di dunia hidup dengan berfoya-foya sambil bermewah-mewah. Bahkan, beberapa diantaranya punya gaya hidup yang sederhana, jauh dari kesan mewah, layaknya seperti orang biasa pada umumnya.

Banyak orang berpikir bahwa orang yang naik mobil mewah dan tinggal di rumah besar adalah orang kaya, padahal tidak sedikit orang yang bergaya hidup seperti itu justru hidupnya penuh dengan utang yang menggunung. Kelihatan mapan di luar padahal sebenarnya rapuh di dalam keuangannya.

Berikut adalah 4 Miliarder dunia sukses yang percaya bahwa hidup itu justru lebih nikmat bila hidup sederhana, dan berbagi ke orang yang tidak mampu & sakit.

1. Warren Buffett

Jutaan orang membaca buku Buffett, mengikuti cara kerja perusahaan investasinya Berkshire Hathaway, dan setiap langkah investasi yang dilakukannya. Rahasia suksesnya Buffet ternyata mudah saja, yaitu hidup sederhana.

Buffett, yang punya kekayaan senilai US$ 65.2 miliar (Rp 762 triliun) di tahun 2014, tidak menyukai barang-barang dan rumah mewah. Ia masih tinggal di rumahnya yang sederhana di daerah Omaha, Nebraka. Rumahnya itu dia beli seharga US$ 31.500 (Rp 370 juta) sekitar 50 tahun lalu.

Meskipun dia sering makan di restoran mewah di sekeliling dunia untuk urusan bisnis, ia juga tidak pernah menolak untuk makan siang hanya dengan sepotong burger dengan minuman ceri bersoda. Ketika ditanya mengapa ia tidak punya kapal pesiar, ia menjawab “Kebanyakan mainan hanya bikin repot.”

2. Carlos Slim

Orang terkaya nomor satu di dunia ini kurang dikenal jika dibandingkan dengan nomor dua, yaitu Bill Gates. Warga negara Meksiko ini memegang titel orang nomor satu terkaya di Dunia tahun 2012 yang lalu, lebih kaya dari Gates pendiri Microsoft.

Slim diprediksi punya kekayaan sebanyak US$ 73 miliar (Rp 854 triliun). Dengan uang sebanyak itu, ia bisa membeli apa saja yang dijual di dunia ini. Tapi, daripada hidup dikelilingi kemewahan, ia memilih untuk hidup sederhana. Ia sendiri masih tinggal di rumah yang ia beli sejak 40 tahun lalu.

3. Ingvar Kamprad

Pendiri perusahaan furnitur asal Swedia Ikea ini mendapat keuntungan sangat banyak dari penjualan furnitur berkonsep rakit sendiri dengan harga terjangkau. Bagi Kamprad, penghematan dalam hidup tidak hanya bagi pelanggannya, tapi juga bagi dirinya sendiri.

Ia terkenal dengan pernyataannya “Pelanggan Ikea bukanlah meraka yang memakai mobil mahal atau tinggal di apartemen mewah.” Pernyataan itu juga diterapkan oleh dirinya sendiri.

Kamprad lebih suka memakai kelas ekonomi ketimbang bisnis dalam penerbangan. Ia pun keliling kota menggunakan bus atau Volvo tua miliknya.

4. Chuck Feeney

Pria blasteran Irlandia-Amerika ini tumbuh di masa-masa sulit AS di tahun 1950-an. Itulah mengapa ia mempertahankan gaya hidup sederhana meski sudah kaya raya seperti sekarang ini.

Ia punya motto “Tujuan saya bekerja keras, bukan ingin jadi kaya raya.” kata salah satu pendiri toko Duty Free yang sudah tersebar di seluruh dunia. Secara diam-diam, ia juga sering memberikan sumbangan dalam jumlah besar tanpa memakai nama sendiri.

Sumbangan tersebut banyak dilakukan melalui yayasan miliknya, Atlantic Philanthropies. Yayasan miliknya itu tercatat sudah memberikan sumbangan US$ 6,2 miliar (Rp 72,5 triliun) ke berbagai tempat seperti sekolah, departemen riset dan rumah sakit.

Pria yang selalu menggunakan transportasi umum ini juga gemar terbang dengan kelas ekonomi, beli baju di toko retail setempat dan tidak pernah menghamburkan uang untuk koleksi sepatu.

“Anda kan hanya perlu satu pasang sepatu untuk sekali pakai,” ujarnya. Ia juga mengajarkan anaknya mencari uang dengan kerja sampingan setiap musim panas.

9Jun 2016

Kisah sukses Investor Saham

Sumber: www.swa.co.id

Bebas finansial. Nampaknya itulah kata yang tepat untuk menggambarkan seorang Lo Kheng Hong, investor saham yang kerap disebut-sebut sebagai Warren Buffet-nya Indonesia. Kini 24 tahun sudah ia menjadi seorang investor saham, dan di usianya akan segera genap 55 tahun ini, tak terpikir sedikitpun olehnya untuk berhenti menjadi investor saham. Kisah keberhasilannya sebagai investor saham itu, tentu bisa menjadi pembelajaran bagi orang lain yang ingin berinvestasi di saham.

Menjadi investor saham itu begitu nikmat dan mengasyikkan. Seorang investor saham itu bisa kaya, meskipun dia tidur saja, karena dia punya perusahaan publik yang harga sahamnya selalu meningkat dan menghasilkan laba besar.

Setiap hari, saya cukup duduk di taman di rumah saya dan melakukan 3 hal yang saya sebut sebagai RTI, yaitu reading, thinking, dan investing. Saya membaca 4 koran yang datang ke rumah saya setiap hari, laporan keuangan perusahaan dan data statistik pasar modal. Saya tidak perlu berjuang dengan kemacetan setiap hari.

Saya juga sudah merasakan tinggal di 5 benua. Saya gunakan sedikit uang yang saya dapatkan dari investasi di Bursa Efek Indonesia untuk berkeliling dunia. Setidaknya 2 kali dalam setahun saya bepergian ke luar negeri. Jika saya ingin berjalan-jalan atau merasakan tinggal di negara lain, misalnya di New York atau London, saya tinggal pergi ke sana dan tinggal beberapa lama di sana. Kadang saya tinggal di negara lain selama 2 minggu � 1 bulan. Biasanya saya bepergian bersama istri dan anak-anak saya. Di sana kami tinggal di hotel saja, lalu jalan-jalan. Saya orang yang bebas, tidak punya bos dan tidak punya karyawan.

Menurut Kheng Hong � demikian ia biasa disapa, ada 5 hal yang tidak dimilikinya, yaitu ia tidak punya kantor, tidak punya pelanggan sebagaimana para pebisnis atau marketing perusahaan, tidak punya karyawan, tidak punya bos, dan tidak punya utang satu rupiah pun. Semua properti miliknya pun ia beli secara tunai, dan bukan dengan kredit pemilikan rumah (KPR).

vImage.php

Saya hanya punya 1 supir, 2 pembantu dan 1 penjaga vila. Tapi saya tidak punya sekretaris. Saya mengkliping dan mem-filing sendiri artikel-artikel tentang pasar modal dari koran setiap hari. Semuanya saya simpan berdasarkan nama perusahaannya sesuai urutan alfabet dari A-Z. Saya juga menge-print keterbukaan informasi itu, lalu saya file berdasarkan nama perusahaannya.

Kheng Hong terlahir sebagai sulung dari 3 bersaudara di keluarga yang sederhana. Ia bahkan langsung bekerja selulus SMA dan baru melanjutkan kuliah ke jurusan Sastra Inggris di Universitas Nasional, Jakarta setelah bekerja.

Tahun 1979 saya mulai kuliah malam sambil tetap bekerja sebagai pegawai tata usaha di PT Overseas Express Bank (OEB). Saya ingat dulu uang pangkal saat masuk universitas itu hanya Rp 50 ribu, dan uang kuliahnya hanya Rp 10 ribu.

Tahun 1989 adalah saat saya mulai menjadi investor saham. Ketika itu usia saya sudah tidak muda lagi, 30 tahun, berbeda dengan Warren Buffett yang pertama kali membeli saham pada usia 11 tahun. Selama 11 tahun saya bekerja di OEB, namun jabatan saya tidak kunjung naik karena bank tersebut tidak melakukan ekspansi usaha. Karena jabatan saya hanya sebagai pegawai tata usaha, maka gajinya pun kecil. Dan, modal saya berinvestasi saham pun hanya dari gaji.

Namun, saya adalah orang yang selalu hidup hemat, uang yang saya punya saya belikan saham. Mungkin orang lain jika dapat uang akan dikonsumsi, atau ditaruh di deposito. Kebanyakan orang uangnya dikonsumsi, misalnya dibelikan mobil. Sementara, saya adalah orang yang paling anti membeli mobil, karena nilainya turun. Sampai sekarang saya masih pakai mobil yang sudah berusia 10 tahun.

Saya mengambil keputusan untuk berinvestasi di saham karena adanya potensi capital gain yang besar. Saat itu ada saham yang ketika IPO (initial public offering) harganya Rp 7.250, tidak lama kemudian menjadi Rp 35.000. Capital gain-nya hampir 400 persen. Tentu saja, itu membuat saya tetarik untuk ikut membeli saham. Di awal-awal berinvestasi saham, saya beli saham saat IPO, hanya sedikit, misalnya Rp 10 juta saja, hanya dapat beberapa lot. Dari sedikit lama-lama jadi banyak.

Saham yang pertama kali saya beli adalah saham PT Gajah Surya Multi Finance saat IPO. Saya mengantre panjang di Gedung BDNI, Hayam Wuruk. Tetapi, waktu listing harganya turun, dan saya terpaksa menjualnya di harga lebih rendah dan mengalami kerugian. Namun, itu tidak membuat saya kapok. Saya lalu mempelajari investasi saham secara otodidak dengan membaca buku-buku tentang investasi Warren Buffett, karena dialah yang sudah terbukti mendapatkan uang terbanyak dari investasi saham. Ada 40 buku Warren Buffett yang saya miliki di rumah. Ada yang sudah saya baca 3 kali dan 4 kali. Saya ulang-ulang agar lebih mendalami isinya.

Di tahun 1990, saya pindah ke Bank Ekonomi di bagian pemasaran, dan setahun kemudian saya menjadi kepala cabang. Tahun 1996, setelah bekerja selama 17 tahun, saya akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja di bank dan berkonsentrasi penuh menjadi seorang investor saham. Saya berani melepaskan pekerjaan saya karena telah mendapatkan keuntungan yang cukup lumayan, serta telah memiliki pengalaman berinvestasi di bursa saham selama 7 tahun.

Uang saya seluruhnya saya belikan saham karena saham memberikan keuntungan yang terbesar dibandingkan investasi yang lain. Saya belum pernah membeli obligasi karena obligasi memberikan return yang kecil. Saya juga tidak menaruh uang saya di reksadana, karena menaruh uang di reksadana artinya uang kita dikelola oleh orang lain. Bagaimana jika manajer investasinya tidak jujur dan tidak kompeten? Uang kita bisa habis semua. Contohnya sudah banyak.

Saya juga tidak pernah membeli emas, karena emas tidak produktif. Jika kita simpan emas 1 kg, maka 10 tahun lagi tetap 1 kg. Dan saya juga tidak membeli dolar. Orang yang menyimpan dolar umumnya mengharapkan hal yang buruk terjadi, krisis ekonomi, negara tidak stabil, agar rupiah melemah dan dia memperoleh keuntungan. Berbeda dengan orang yang membeli saham, ia akan selalu mengharapkan yang baik yang terjadi, seperti negara aman, ekonomi bertumbuh, dan daya beli meningkat agar harga sahamnya pun ikut meningkat.

Saya juga tidak menaruh uang dalam jumlah besar di rekening bank. Hanya secukupnya saja. Buat apa kita taruh uang di bank? Rugi, karena bunganya kecil. Orang yang menaruh uangnya di bank, misalnya di deposito, dengan bunga kecil, dan inflasi yang begitu besar, dia sebetulnya sedang membuat dirinya miskin secara pelan-pelan.

Padahal bursa efek Indonesia selama 11 tahun ini naik secara luar biasa. Sejak peristiwa bom di Bali tahun 2002, IHSG naik dari 330 menjadi 5251 pada Mei 2013. Ada saham yang naik hingga 10 ribu persen lebih. Pernah saya membeli saham perusahaan Petrokimia dengan harga Rp 200, dan pada tahun 2008 turun jadi Rp 60. Tetapi saya tidak jual, bahkan saya membeli lebih banyak di harga murah, akhirnya saham itu berbalik naik menjadi Rp 600 dan saya menjualnya.

Dalam salah satu event Investor Summit yang digelar oleh Bursa Efek Indonesia, Kheng Hong mengatakan, seorang investor saham itu harus seperti seorang atlet yang nafasnya panjang dan kuat bertanding untuk waktu yang lama. Dengan kata lain, seorang investor saham itu harus kuat dalam hal permodalan. Karena itulah uang untuk berinvestasi di saham tidak boleh uang yang berasal dari utang dan bukan uang keperluan sehari-hari. Kheng Hong juga dikabarkan sempat mengalami kerugian cukup besar hingga uangnya tinggal 15% saat terjadi krisis 1997-1998. Namun, ia tetap membeli saham dengan uang tersebut dan posisi yang rugi kemudian berbalik menjadi untung. Ia bahkan berhasil meningkatkan asetnya di saham hingga 150 ribu sejak 1998 sampai 2013.

Saya adalah seorang Value Investor. Pekerjaan saya setiap hari adalah mencari perusahaan yang �salah harga� di bursa. Strategi investasi saya adalah membeli saham perusahaan yang bagus dan murah, kemudian saya simpan, menunggu dengan sabar, sampai suatu hari pasar sadar bahwa harga saham itu terlalu murah dan kembali naik ke harga wajarnya, dari sinilah saya mendapatkan keuntungan. Mungkin di atas 90% investor saham tidak tahu apa yang mereka beli. Mereka seperti membeli kucing dalam karung.

Untuk mengetahui perusahaan mana yang �salah harga� tersebut, salah satu caranya adalah dengan membandingkan berapa nilai pasar perusahaan itu dan berapa laba bersih perusahaan itu. Sebagai contoh, pada tahun 2005 saya membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI), perusahaan ternak ayam terbesar kedua di Indonesia seharga Rp 250. Saya mendapatkan sekitar 6 juta saham MBAI atau sekitar 8,28 % dari total saham MBAI yang beredar di pasar. Jumlah saham MBAI yang beredar di 2006 mencapai 75 juta lembar. Jadi, nilai perusahaannya adalah Rp 250 dikali 75 juta lembar, yaitu Rp 18,75 miliar, padahal labanya Rp 106 miliar. Ada yang tahu tidak? Tidak ada. Jadi tidak ada yang beli. Setelah saya simpan selama 6 tahun, harganya naik menjadi Rp 31.500 dan saya menjualnya di 2011. Saya memperoleh untung 12.500%.

Chenghong2

Saya juga pernah memiliki 850 juta lembar saham PT Panin Financial Tbk (berkode PNLF). Saya membelinya di harga Rp 100 dan 1,5 tahun kemudian saya menjualnya di harga Rp 260. Setelah itu, harganya masih naik lagi ke Rp 300.

Properti saya yang pertama, yaitu rumah yang saya tinggali di Green Garden pun merupakan hasil dari investasi saham. Saya membelinya pada Januari 1994, karena di akhir 1993 itu saya dapat uang dari bursa saham yang cukup untuk membeli rumah. Saat itu saya dapat untung dari penjualan saham PT Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS), perusahaan pelayaran. Di tahun 1993, saya beli saham RIGS di Rp 800. Tidak sampai setahun, harga saham itu langsung naik, dan saya jual di Rp 1.350. Dulu saham itu likuid. karena saat itu pasar modal memang sedang booming. Waktu itu saham saya hanya itu saja, karena uang saya saat itu tidak banyak. Jadi, biasanya saya beli saham hanya dari satu emiten saja.

Kini saya telah memiliki rumah tinggal, sebuah apartemen di Pantai Mutiara dan sebuah vila di Cisarua. Semuanya untuk saya tinggali, bukan untuk disewakan. Bagi saya, menjadi seorang investor saham itu sudah lebih dari cukup, tidak perlu menyewakan properti untuk mendapat income.

Sebuah artikel di salah satu majalah ekonomi nasional menyebutkan bahwa nilai pasar saham yang dimiliki Lo Kheng Hong kini mencapai Rp 2,5 triliun. Kheng Hong memang tidak meng-iya-kan saat kebenaran angka tersebut dikonfirmasikan kepadanya. Namun dalam salah satu artikel lainnya disebutkan pula bahwa saat tengah memberikan kuliah umum di Prasetya Mulya dan ada mahasiswa yang menanyakan berapa banyak kekayaanya, Kheng Hong menjawab dengan diplomatis bahwa dividen saham yang diterimanya di tahun 2011 telah mampu mencukupi kebutuhannya seumur hidup.

Selain itu, ketika diminta memperbandingkan besaran aset properti yang ia miliki dengan total asetnya, ia pun memperkirakan bahwa total persentase aset propertinya yang terdiri dari rumah tinggal, sebuah vila dan sebuah apartemen itu hanya sekitar 1 % dari total portofolio investasinya.

Sudah 20 Tahun ini saya tidak membeli saham saat IPO. Saya hanya membeli saham yang telah diperdagangkan di bursa. Saat ini, saya banyak membeli saham perusahaan tambang batubara, karena harganya sudah jatuh banyak sekali dan sangat murah. Saat ini saya memiliki saham dari sekitar 20 emiten, dan salah satunya adalah saham PT Petrosea Tbk yang saat ini kepemilikannya telah mencapai sekitar 9 %.

Saya tidak memiliki target investasi. Berinvestasi di bursa efek tidak bisa ditargetkan, karena kita tidak bisa tahu dengan pasti, apa yang akan terjadi di masa depan. Hari esok itu misteri. Nasehat saya bagi orang-orang yang baru mulai berinvestasi ialah jangan pernah membeli saham sebelum membaca annual report-nya, karena dengan membaca annual report kita bisa mengetahui bidang usahanya, labanya, keuangannya, pemiliknya, serta direktur dan komisarisnya, agar kita tahu apa yang kita beli dan tidak membeli kucing dalam karung.

Tuhan itu Maha Pengampun, tetapi bursa saham tidak kenal belas kasihan. Bursa Saham tidak pernah memberi ampun kepada orang yang tidak tahu apa yang ia beli.

Kini Kheng Hong terus berusaha membagikan ilmunya dalam rangka menumbuhkan kesadaran banyak orang untuk berinvestasi. Ia seringkali sharing dengan anak-anak, saudara, teman, dan juga para mahasiswa dengan memberi kuliah umum di berbagai universitas, serta kepada para profesional di berbagai perusahaan publik tentang manfaat berinvestasi di bursa saham. Saudara dan kedua anak Kheng Hong pun telah turut berinvestasi di saham. Anak bungsunya bahkan telah mulai membeli saham sejak masih berusia 9 tahun.

Cara Lo Kheng Hong Bermain Saham

Tiap hari mencermati berita tentang emiten dan tren pasar modal

Memburu saham yang �salah harga� di pasar

Mencermati laporan tahunan perusahaan yang sahamnya akan dibeli

Tidak menetapkah target berapa lama saham harus dipegang

Rata-rata return investasi Lo Kheng Hong: � 63% per tahun

 

Return yang pernah diraih dari beberapa saham :

Nama Perusahaan & Kode Saham

Harga Beli

Harga Jual

Jangka Waktu Investasi

Persentase Keuntungan

PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI)

Rp 250

Rp 31500

6 tahun (2005-2011)

12500%

PT Panin Financial Tbk (PNLF)

Rp 100

Rp 260

1,5 tahun

160%

PT Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS)

Rp 800

Rp 1350

< 1 tahun (1993) 68,75%
9Jun 2016

Kapan waktunya beli saham?

Sebagai seorang karyawan swasta, saya beruntung mendapatkan bonus atas kinerja tahun 2013 dari perusahaan sekitar akhir Februari 2014 yang lalu. Kebetulan perusahaan tempat saya bekerja mencetak keuntungan yang bertumbuh sehingga kita karyawan kecipratan rejeki lewat bonus yang dibagikan.

Lalu pertanyaannya, untuk apa bonus ini ? Akan saya belikan apa?

Di awal tahun 2014, saya memang sudah mengatur rencana keuangan saya selama setahun ini, sehingga dari total bonus yang saya peroleh ini sekitar 30% akan saya gunakan untuk memperbaiki rumah dan uang tahunan sekolah anak saya, lalu sisanya 70% akan saya gunakan untuk investasi saham.

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah saya sudah membeli saham dengan uang bonus tersebut di akhir Februari yang lalu atau Maret yang lalu? Jawabannya:…masih belum. Saya masih memegang dalam bentuk cash.

Loh kenapa?

Ya, karena di 1-2 bulan terakhir IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sudah naik cukup tinggi 14% dan mencapai angka 4800.

Bahkan kalau kita amati ke per saham nya, untuk saham-saham perusahaan bagus dan likuid juga sudah naik 20-40 % dari awal tahun. Jadi nilai saham-saham tersebut tidak lagi murah.

Saya sharing strategi ini kepada Anda karena banyak dari para pelaku pasar biasanya tidak memperhatikan waktu beli yang tepat. Waktu beli bagi mereka adalah ketika punya dana cash di rekening investasinya, gak peduli saham tersebut sudah mahal atau tidak.

Itulah mengapa banyak orang yang bertanya kepada saya, “Pak Yossy, saya sudah beli saham perusahaan bagus, untungnya terus bertumbuh, manajemennya jujur, tapi kok harga sahamnya gak naik-naik saya tunggu hingga 1-2 tahun.”

Ketahuilah bahwa, walau saham perusahaan bagus tidak berarti kita bisa beli kapan saja.

Supaya hasilnya bisa optimal dan mencapai rata-rata imbal hasil kenaikan harga saham 20% setahun ada satu strategi yang saya beri nama “Strategy Sniper” yaitu membeli ketika harga saham perusahaan bagus sedang turun atau diskon.

Mirip ketika Anda hendak belanja, Anda pasti lebih diuntungkan ketika membeli barang bagus di harga diskon. Kalau belum diskon? Yah, jangan dibeli dulu, sabar saja menunggu sampai waktu itu tiba.

Demikian juga dalam Investasi saham, percayalah bahwa saham bagus dengan harga terdiskon juga akan selalu ada, biasanya hal itu terjadi karena sentimen negatif dari para pelaku pasar saham dimana mereka cenderung menjual saham yang mereka miliki hanya karena terikut dengan suasana panik di pasar saham, bukan karena perusahaannya yang bermasalah.

Di situlah seharusnya waktu yang tepat bagi Anda para Investor Saham membeli, sekali lagi membeli…bukan menjual.

Bagaimana cara membelinya? Pakailah strategy Sniper. Kita tahu bahwa seorang sniper atau penembak jitu biasanya hanya menembak sesekali. Dia tidak menghambur hamburkan peluru nya dan membabi buta dalam menembak. Yang dilakukan seorang Sniper adalah menunggu di saat yang tepat kapan akan melumpuhkan musuhnya. Nah dalam hal ini juga, sebagai seorang Investor Saham Anda harus belajar bersabar menunggu moment yang tepat kapan akan membeli saham dari perusahaan yang bagus. Ketika timing itu tiba, Anda cukup membeli saham 2-3 x setelah itu duduk manis menunggu saham perusahaan bagus itu akan naik kembali.

Perlu Anda ketahui bahwa selama perusahaannya bagus, walau harga sahamnya turun, akan ada masanya harga tersebut naik kembali bahkan lebih tinggi dari harga sebelum turun.

Hingga saat ini awal April, saya masih mengumpulkan bonus yang saya terima di rekening bank saya, dan lanjut menyisihkan gaji saya tiap bulannya sambil menunggu kapan IHSG akan turun lagi.

Seperti kata Warren Buffett, Investor Saham terkaya dunia , “Anda harus rakus saat orang lain ketakutan, dan ketakutan saat orang lain rakus.”

9Jun 2016

Nih, daftar perusahaan sekuritas

Seperti yang sudah saya jelaskan di artikel “Yuk buka account investasi!”, kalau Anda mau beli saham harus lewat pialang atau perusahaan sekuritas. Nah, karena banyak yang Tanya, dimana sih Pak perusahaan sekuritas itu? Jawabannnya: kantor pusat sih pastinya di Jakarta, khan Bursa Efek Indonesianya di Jakarta juga. Tapi mereka biasanya punya kantor cabang di berbagai kota, jadi calon investor bisa tetap mendaftar tanpa harus ke Jakarta.

Mirip seperti bank, punya kantor cabang di banyak kota besar ataupun kota kecil.

Jumlah perusahaan sekuritas saat ini banyak banget lebih dari 100 perusahaan sekuritas di Indonesia, saya sendiri pastinya tidak bisa ingat seluruhnya. Kalau Anda mau check apa saja, bisa langsung di link berikut ya: http://www.idx.co.id/id-id/beranda/anggotabursaamppartisipan/profilanggotabursa.aspx

Nah, biar mudah untuk Anda yang baru pertama kali buka rekening investasi saham, ada baiknya saya berikan list perusahaan sekuritas yang cukup terkenal dan memiliki banyak cabang di berbagai kota. Tapi perlu diingat yah, kalau ada perusahaan sekuritas yang tidak ada di list ini, bukan berarti tidak bagus, tapi kebetulan saja jarang saya dengar.

Mandiri Sekuritas
PT. Indopremier Securities
PT. Deutsche Securities Indonesia
PT. Daewoo Securities Indonesia (eTrading)
PT. BNI Securities
PT. Kresna Graha Sekurindo Tbk
PT. Mega Capital Indonesia
PT. Phillip Securities Indonesia
PT. Sinarmas Securities
PT. Sucorinvest Central Gani
Trimegah Securities
PT. Kiwoom Securities
PT. MNC Securities
Panin Sekuritas
PT. Danareksa Sekuritas
Kalau mau tahu dimana alamat dan kantor cabangnya, Anda bisa lihat di link yang saya berikan di atas atau cara mudah lainnya, Anda copy saja salah satu nama di atas dan cari di google, atau bisa juga telepon Telkom di 108 untuk tanya call center atau no telepon kantor mereka di kota Anda.

9Jun 2016

Rumor yang menggoda

Akhirnya beres juga, Selly pun keluar dari ruangan Customer Service salah satu pialang atau perusahaan sekuritas di Jakarta Pusat. Ia puas dengan pelayanan yang diberikan, cukup 30 menit proses pendaftaran rekening/account saham atas namanya selesai. Sebelum pulang, CS yang bertugas memberitahu bahwa accountnya akan aktif dalam 1 minggu ke depan.

Sebenarnya Ia sudah tidak sabar untuk bisa segera bertransaksi, namun karena harus menunggu, ia pun berencana untuk mencari informasi sebanyak mungkin mengenai saham apa yang bagus untuk dibeli.

Selly memutuskan untuk mulai berlangganan surat kabar nasional mengenai keuangan, ia juga mencoba mencari informasi tentang saham lewat internet. Dia menemukan beberapa mailing list atau group email khusus saham. Tak lupa dia juga berusaha menonton diskusi tentang saham di TV berbayar di pagi hari maupun malam sepulang dari kantor.

Setelah seminggu, akhirnya account saham yang ditunggu-tunggu kelar juga, kini Selly sudah memiliki akses untuk transaksi jual beli saham. Dengan tidak sabaran, ia langsung mencoba-coba online trading yang bisa diakses lewat komputernya sambil membaca panduan yang diberikan perusahaan sekuritasnya.

“Hmm, Beli saham apa ya?”

Dia pun membuka dan membaca email yang tadi pagi dikirimkan oleh analyst perusahaan sekuritas tempat Selly membuka account. Ada 6 saham yang direkomendasikan untuk dibeli (buy) dan email itu kebanyakan berisi kalimat berpeluang dan berpotensi. Duh, mana yah yang paling bagus, uang saya yang 10 juta ini apa dibelikan 1 saham saja atau dibagi rata ke-6 saham saja?

Hmm, tunggu dulu, kok di mailing list saham gak ada yang bahas 6 saham ini ya, kebanyakan malah member ramai membicarakan saham perbankan yang katanya hingga akhir tahun akan meraup laba besar.
Eh sebentar, di twitter tadi saya baca kayanya ada yang mention beli saham telekomunikasi saja, katanya lagi murah banget harganya.
Tapi, kemarin malam di TV ada diskusi dengan analis saham terkenal, sarannya kurang lebih sama dengan yang di mailing list yaitu saham perbankan.

Yah sudah deh, 2 sumber bilang lebih baik saat ini beli saham perbankan, ok coba beli 2 lot (1000 lembar) dulu, pikir Selly demikian, tuing, keluar notifikasi transaksi “Anda telah membeli 2 lot saham BBSI.” (kode saham hanya contoh).

Sip! Mudah-mudahan naik nih, ia mulai membayangkan keuntungan yang akan dia peroleh nantinya.
Lalu Selly melanjutkan kerjanya menyiapkan beberapa laporan untuk bosnya. Selang 1 jam sibuk bekerja di depan komputer, ia tergoda untuk login kembali untuk melihat apakah sahamnya sudah naik. Eh, kok sekarang warnanya merah? minus 0.75%? Duh, gimana ya ini? Tadi sih, analis sahamnya bilang kalau sudah turun 2% baru dijual. Biarin dulu aja deh.

Jam 15.30, Selly masih penasaran, ia login lagi di web sekuritas untuk melihat kembali kondisi sahamnya, apa sudah naik dan balik ke harga awal dia beli? Loh, kok malah minus 2.5%? Gawat, jual gak nih? Tapi kalau dijual rugi hampir 200 ribu rupiah. Ah sudahlah biar saja lihat besok aja. Selly pun menutup layar accountnya.
Malam harinya Selly gak bisa tidur nyenyak, ia masih terus memikirkan saham bank yang dibelinya tadi.

Pagi hari pukul 09.00, dia sudah gak sabar untuk membuka accountnya dan melihat harga saham bank yang dibelinya kemarin.

Di surat kabar keuangan pagi, ia sempat membaca satu kolom yang memprediksi bahwa IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) berpotensi untuk turun karena keluarnya laporan inflasi yang cukup tinggi di bulan ini. Selly semakin khawatir dan takut saham yang dibelinya akan ikut turun lagi dari yang sudah minus 2.5% sehari sebelumnya.

Ternyata benar, saham bank yg dimilikinya turun hingga 3.5% hanya dalam waktu setengah jam transaksi BEI dibuka, artinya total kerugian yang ia derita sudah mencapai 6% dari harga beli. Tangannya gemetaran dan berkeringat, dia langsung meminum air putih yang ada di mejanya, berusaha menenangkan perasaannya.

“Aduh, kok gak aku jual aja yah kemarin?” Sekarang sudah rugi hampir 500 ribu rupiah, harusnya ikutin aja pesan analis dari TV yg kemarin, kalau sudah rugi 2% ya harusnya dijual!
Tapi, yah khan karena ngikutin rekomendasi analis itu juga sih, makanya aku beli saham ini!! Awas yah, besok-besok gak mau lagi ngikutin omongan analyst itu, tak catet deh namanya, bikin sesat aja, saham mau turun kok disuruh beli.

Cerita di atas sebenarnya tidak hanya dialami oleh Selly, ada banyak pelaku pasar modal juga mengalami hal yang sama, mungkin salah satunya adalah Anda?

Tidak ada yang salah dengan banyaknya informasi tentang saham yang berseliweran di sekitar kita setiap harinya, bagaimanapun dengan perkembangan teknologi informasi belakangan ini, sangat mudah buat Anda mengakses dan memperoleh informasi mengenai pasar saham.

Dan tidak bisa dipungkiri bahwa ketika semakin banyak informasi yang Anda terima apalagi bercampur antara rumor dan fakta, maka mau tidak mau psikologi akan ikut terpengaruh, yang sering mengakibatkan keputusan untuk membeli dan menjual saham menjadi subjektif karena kebanyakan datang dari pandangan dan pendapat orang lain bukan analisa sendiri. Kalau pas kebetulan untung sih masing gak akan masalah, namun sayangnya kok kayanya malah lebih sering rugi ya, lalu menyalahkan orang yang memberi rekomendasi karena membuat Anda rugi.

Ada 3 tips sederhana buat Anda yang pernah mengalami hal ini:

1. Luangkan waktu Anda untuk membaca buku-buku mengenai investasi saham. Saya pribadi sangat menyarankan agar Anda terlebih dahulu membaca buku, barulah kemudian membuka rekening investasi saham, hal ini dilakukan untuk menghindari Anda terpancing membeli sesegera mungkin. Karena biasanya untuk Anda yang baru memulai, sangat tidak suka melihat uang di rekening nya masih dalam bentuk cash, maunya dibelikan saham semua, takut ketinggalan kereta.

2. Hindari informasi yang berisi rekomendasi saham apalagi yang berbau rumor, biasanya informasi itu akan diikuti dengan kalimat-kalimat sebagai berikut: berpeluang, berpotensi, dikabarkan, berencana, dan kalimat-kalimat lainnya yang berisi informasi yang masih belum pasti. Fokuslah pada laporan keuangan perusahaan yang sahamnya akan Anda beli atau informasi yang disampaikan oleh bagian investor relation/humas dari perusahaan. Link nya sebagai berikut: http://www.idx.co.id/id-id/beranda/perusahaantercatat/laporankeuangandantahunan.aspx

3. Jangan memonitor saham terlalu sering, ingat bahwa tujuan Anda membeli saham adalah untuk investasi jangka panjang. Cukup sekali 2 minggu atau sekali sebulan bahkan sekali dalam 2 bulan. Online trading memang punya keuntungan dimana Anda bisa membeli saham apapun, kapanpun dan dimanapun Anda berada selagi masih ada jaringan internet, namun ada efek samping yaitu pada psikologis kita sebagai investor. Terlalu sering melihat saham yang sudah dibeli, akan memancing Anda untuk berspekulasi, mengharapkan keuntungan dengan jual beli dalam waktu singkat. Anda tentunya paham bahwa sebagai pemula, itu justru berbahaya dan dapat mengakibatkan kerugian yang besar dalam waktu singkat pula.

Page 1 of 212