1. Yossy Girsang
  2. Pemula

Pemula

7Aug 2018

Strategi seorang Millennial usia 28 tahun untuk pensiun di usia 37

GettyImages-498338501-571065833df78c3fa27fe32a

Usia pensiun untuk warga Amerika Serikat adalah 63 tahun. Namun seorang pemuda di Minneapolis, AS berencana untuk bisa lebih cepat 26 tahun yaitu pensiun dini di usia 37 tahun.

Sean (*bukan nama sebenarnya sesuai permintaan) saat ini sedang dalam proses menuju pensiun dini: Pada usia 25 tahun, kekayaan bersihnya sudah mencapai 6 digit (ratusan ribu USD) , dan saat ini 2018 dia menginjak usia 28 dan memiliki lebih dari $ 250.000 (3.5 Milyar rupiah) di tabungan & investasi.

“Tidak ada warisan, tidak ada rejeki-tak-terduga,” tulisnya di blog-nya, My Money Wizard. “Hanya banyak tabungan, investasi pada umumnya dan pekerjaan di industri keuangan.”

Sean juga bebas utang, berkat beasiswa dan “orang tua yang sangat murah hati,” katanya kepada CNBC Make It. “Aku memulai dengan baik karena itu. Beban pinjaman mahasiswa (student loan) rata-rata di Colorado, di mana ia menghabiskan dua tahun pertamanya di perguruan tinggi, adalah $ 26.520 (372 Juta rupiah).

Namun, tujuannya untuk pensiun dalam waktu 9 tahun ke depan tentu membutuhkan strategi dan displin yang tepat. Berikut cara Sean mewujudkannya:

 

  1. Menabung lebih awal

 

“Saya selalu berpikir bahwa untuk memiliki cukup uang untuk pensiun, atau untuk mandiri secara finansial, Anda harus memiliki penghasilan yang besar,” kata Sean.

Kakeknya mengubah perspektif ini: “Kakek saya tidak berpenampilan seperti orang kaya. Dia membesarkan lima anak, dia mengendarai mobil tua dan berpenghasilan rata-rata karyawan di US.” Namun, ia berhasil menghemat lebih dari $ 1 juta (14 Milyar rupiah), sebagian besar berkat memanfaatkan strategi bunga majemuk (compound interest), yang menyebabkan kekayaan Anda seperti bola salju yang bergulir dari waktu ke waktu. Buat Anda yang belum paham bunga majemuk silahkan baca di artikel berikut ini: http://www.yossygirsang.com/rahasia-kekuatan-investasi/

“Ini benar-benar berbicara tentang waktu yaitu dimulai semakin muda/awal maka semakin baik, hidup wajar dan tentunya bunga majemuk,” kata Sean, yang membuat investasi pertamanya pada usia 16 tahun dan mulai serius menabung untuk pensiun ketika ia mendapatkan pekerjaan penuh pertamanya pada usia 23 tahun.

 

  1. Menetapkan tujuan

Buku Jacob Lund Fisker’s “Early Retirement Extreme” yang memotivasi Sean untuk mempercepat masa pensiunnya, karena dari buku ini menjelaskan bahwa Anda tidak perlu menjadi Billionaire untuk bisa pensiun dini.

“Saya selalu berasumsi, seperti kebanyakan orang, bahwa saya membutuhkan jutaan dolar untuk pensiun,” katanya kepada CNBC Make It. “Namun di sini, penulis (Jacob Lund) membuktikan bahwa pensiun itu membutuhkan uang yang jauh lebih sedikit daripada yang pernah saya bayangkan. Dan ini bukan satu ukuran yang cocok untuk semua orang – itu tergantung pada berapa banyak uang yang Anda belanjakan dan berapa pengeluaran Anda.”

 

  1. Memonitor pengeluaran

Daripada duduk dan mengurangi budget untuk mencapai tujuannya sebesar $750.000, Sean lebih memilih untuk mulai memonitor pengeluaran-nya.

Ini langkah pertama yang harus diambil oleh siapa pun jika mereka ingin menaikkan jumlah tabungan mereka atau mengendalikan keuangan mereka, Sean mengatakan: “Lacak pengeluaran Anda dan cari tahu ke mana uang Anda pergi. Begitu Anda melakukannya, Anda akan melihat list belanja-belanja Anda selama sebulan dan berkata, “Ya ampun, saya tidak percaya menghabiskan $400 untuk makan minum di luar.

Sean me-record pengeluarnnya dengan aplikasi smart phone, ada banyak aplikasi yang bisa Anda download untuk membantu mencatat pengeluaran Anda setiap hari setiap bulan.

Seiring waktu, ketika dia mulai mencatat semua pengeluarannya, jumlah tabungannya secara alami mulai meningkat. Ketika pertama kali dia mulai memonitor, dia dapat menghemat sekitar 35% dari penghasilannya. Tetapi ketika ia semakin sadar akan ke mana perginya uang itu, hingga tahun 2018 ini, ia dapat menyisihkan 60% penghasilannya.

 

  1. Mengalokasikan kenaikan gaji

Sejak lulus pada 2013, penghasilan Sean meningkat dari $50.000 per tahun menjadi sekitar $80.000, jumlah ini termasuk penghasilan rata-rata karyawan di US. Tetapi dia berprinsip bahwa “ketika berpenghasilan lebih banyak, bukan berarti menghabiskan lebih banyak,”katanya kepada CNBC Make It. “Setiap kali saya mendapat kenaikan gaji, saya berusaha menyisihkan lebih banyak untuk investasi.

 

  1. Menjaga biaya tetap rendah

“Jika Anda melihat pengeluaran saya dibandingkan dengan kebanyakan orang, dua area utama yang saya kurangi paling banyak adalah biaya tempat tinggal dan dan mobil,” kata Sean. Dia membeli mobil seharga $ 13.000 dengan tunai, yang berarti dia tidak memiliki cicilan mobil apa pun. Sementara untuk tempat tinggal, untuk sementara waktu, dia membagi biaya sewa dengan pacarnya dan membayar $640 per bulan. Setelah membeli rumah pada tahun 2017, mereka sekarang membagi cicilan dimana masing-masing membayar sekitar $740 per bulan.

Dengan menjaga biaya tetapnya tetap rendah, Sean memiliki ruang untuk berbelanja sesekali. Dan itulah kuncinya. Dia juga berusaha menyenangkan diri dengan makan di luar dan travelling. Dia menghabiskan $150 hingga $200 di restoran per bulan.

 

  1. Uang-nya bekerja untuknya

 Seperempat juta dollar tabungan Sean dibagi dalam beberapa bentuk. Dia memiliki sekitar $14.000 dalam bentuk tunai dan sisanya diinvestasikan dalam berbagai instrumen, dia mengatakan kepada CNBC Make It: “$ 104.000 dalam dana pensiun perusahaan, $116.000 dalam investasi saham dan $24.000 dalam Roth IRA (Individual Retirement Account under US law). Dia mem-posting rincian kekayaan bersihnya di blog-nya setiap bulan.

“Banyak orang yang keliru, dimana ketika mereka melihat seorang pemuda berusia 20 tahunan dengan seperempat juta dolar dan mereka segera berpikir, ‘Oh, dia pasti telah memperolehnya dari investasi bitcoin yang luar biasa atau melakukan strategi perdagangan saham yang jitu,'” kata Sean. Padahal dia melakukan hal yang sebaliknya dan hanya melakukan investasi sederhana.

“Anda tidak harus menjadi seorang jenius untuk berinvestasi saham,” katanya. “Banyak orang berpikir bahwa Anda harus terjun jauh ke dalam keuangan perusahaan untuk berinvestasi di pasar saham. Padahal Anda bisa berinvestasi di index fund atau reksadana, Anda tidak perlu menjadi ahli.”

Investasi baik yang dia lakukan adalah yang paling sederhana bagi kebanyakan karyawan: memberikan kontribusi maksimum kepada dana pensiun setiap tahunnya. “Saya menghemat lebih dari $6.000 per tahun dalam pajak hanya dari memaksimalkan kontribusi dana pensiun saya.”

Saat ini dia merasa progress-nya masih on track,”mungkin perkiraan saya pensiun di usia 37 tahun sedikit over optimis, tapi walaupun itu mundur sedikit masih tetap akan lebih cepat dibanding warga Amerika lainnya yang juga memiliki rencana untuk pensiun dini.

Namun Sean tidak berharap hanya duduk di pantai selama sisa hidupnya di masa pensiun. “Bukan itu yang saya cari,” katanya. “Yang saya cari adalah kebebasan (Freedom).

Jika saya ingin bekerja, saya bisa memilih untuk bekerja. Jika saya ingin travelling, saya bisa travelling. Untuk saya yang paling penting adalah Kebebasan

 

By Kathleen Elkins | CNBC.com

1Aug 2018

Jam tangan+hoodie seharga mobil mewakili apa?

38071798_10156686023182249_3122366955617517568_o

Video yang membahas soal outfit segerombolan anak hype tempo hari memang bikin hebring. Orang-orang terperangah ketika mengetahui harga topi atau hoodie bisa mencapai 4-6 jutaan, bahkan arloji hingga 200 juta. Akhirnya tak sedikit yang menghujat video tersebut.

Tapi bagaimana pun juga, mereka itu patut diapresiasi. Ada beberapa hal.

Yang pertama, mereka sukses tampil sebagai penanda bahwa perekonomian kita sedang bertumbuh ke arah positif. Mereka berhasil menyingkirkan pesimisme para pakar dan ekonom. Daya konsumsi yang mereka perlihatkan sesungguhnya adalah salah satu indikator pertumbuhan ekonomi. Daya beli meningkat, ekonomi tumbuh pesat — meroket, pemerintah berhasil.

Mereka telah benar-benar menjadi garda paling depan dalam mempromosikan kerja pemerintah. Mereka kasih bukti nyata.

Yang kedua, memangnya salah kalau mereka pakai jam tangan senilai 200 juta? Ada harga, ada kualitas bung. Arloji ratusan juta itu konon kabarnya terbuat dari material tahan karat. Termasuk fitur ketahanan hingga kedalaman 100 meter di dalam laut. Barangkali spesifikasi ini yang mereka butuhkan ketika asik membuat vlog yang peace-love-and-gaul waktu nyelam ke dalam perairan Raja Ampat, Wakatobi, Umbul Ponggok di Klaten.

Yang ketiga, pola konsumsi mereka telah berkontribusi besar untuk sektor perbankan. Semakin sering mereka belanja, semakin intens penggunaan fasilitas kredit bank, maka akan semakin berputar dana. Lagi-lagi perekonomian jalan toh? Kenapa begitu?

Saya pernah menemani seorang teman masuk ke dalam sebuah toko arloji mewah di salah satu mall ibukota. Raut muka saya seketika pucat ketika mendengar harga arloji yang sedang ditimang-timang oleh si teman. 175 juta, nyaris seharga Avanza Veloz kereta kuda kebanggaan keluarga kecil saya yang nyicilnya aje udeh ngos-ngosan senen kemis.

Tapi tak demikian halnya dengan si teman. Dengan elegan dan santai, ia memacak jam tangan tersebut, dan manggut-manggut cantik ketika dijelaskan soal fasilitas kredit cicilan 12 bulan oleh sang pramuniaga.

Saya sempat ingin bertanya kepada sang pramuniaga, apakah jam tangan tersebut tidak akan pecah belah ketika jatuh ke lantai. Tapi mengingat bahwa saat itu saya sedang mengenakan kemeja M2 hasil berburu End of Season Sale, celana jins Levis (kw tentu) senilai 150 ribu, jam tangan alexander katanya christie dan sepatu converse diskonan, maka saya urung bertanya.

Yang keempat, video viral tersebut kembali mengingatkan kita bahwa ada PR yang harus diselesaikan. Yakni menghadapi jurang polarisasi yang semakin ngetrend di kalangan masyarakat kita.

Lalu ada di mana kita sekarang?

Kalau kamu masih suka mencet-mencet odol hingga penyet supaya sisa-sisa pasta gigi masih bisa digunakan,

kalau kamu suka campur sampo dengan air di tetes-tetes penghabisan,

dan kalau kamu sudah ambil beberapa buku ketika mampir ke toko buku langganan tapi lalu dikembalikan semuanya ke rak karena baru ingat bahwa sekarang masih awal bulan sementara gaji tinggal sekian untuk seminggu makan,
ya udah yuuk…..gabung sama saya di pojokan.

Kita tonton lalu replay, lalu tonton lagi, lalu replay lagi video itu sambil cekikikan. Siapin tissue, kalau-kalau kebablasan menangys…

 

Contributed by: Rulli Rachman, Entrepreneur

23435091_10155970327667249_7596738769789775368_n

 

 

5Mar 2018

Mengapa harus memulai investasi dengan dana kecil?

Screen Shot 2018-03-05 at 13.28.57

Banyak dari kita yang berpikir bahwa untuk memulai investasi sebaiknya menunggu hingga uang kita cukup besar.

Berdasarkan pengalaman saya, pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Mengapa?

Ada beberapa alasan penting mengapa kita justru perlu memulai investasi dengan uang kecil. Uang kecil di sini yang saya maksudkan berkisar di 5 hingga 10 juta rupiah.

  1. Dalam investasi tentunya kita berharap ada return yang diharapkan misalnya 10% per tahun atau lebih. Semakin besar return yang diharapkan tentu semakin besar pula resiko yang perlu ditanggung. Resiko disini berupa kemungkinan investasi berbalik arah dan mengalami penuruan. Anda bisa bayangkan jika Anda berinvestasi langsung dengan modal besar misalnya 1 milyar rupiah, dan ternyata setelah berjalan sekian bulan, investasi Anda turun sebesar 4% misalkan karena terjadi kondisi ekonomi yang kurang baik. Itu artinya Anda pada saat itu memiliki potensi kerugian 40 juta rupiah. Dimana dalam situasi ini, buat seorang pemula tentu tidak mudah. Anda akan mulai berpikir negatif, sekiranya uang 40 juta itu Anda gunakan untuk membeli sepeda motor  atau untuk membayar uang sekolah anak, atau untuk beli perhiasaan, padahal bisa jadi penurunan nilai investasi sebesar 4% itu sifatnya hanya sementara, tapi secara psikologi bisa membuat tidur Anda tidak nyenyak dan bahkan malah stress, tidak tenang bekerja dan beraktivitas. Namun jika Anda memulai dengan jumlah uang yang kecil misalnya 5 juta rupiah, maka penuruan 4% dari instrumen investasi Anda setara dengan 200 ribu rupiah. Jumlah uang yang masih cukup kecil, setara dengan biaya makan siang Anda bersama keluarga ketika weekend. Anda tidak kepikiran ketika sedang beraktivitas karena secara jumlah masih bisa Anda anggap kecil. Sangat penting bahwa ketika kita berinvestasi, secara psikologi tetap membuat kita tenang, tidak kepikiran dan tidak stress. Berinvestasi itu harus dijalani dengan enjoy, dinikmati dengan santai, karena prinsipnya adalah money works for us, uang yang bekerja untuk kita, jadi kita gak perlu repot. Itulah mengapa ketika Anda memulai investasi dari uang kecil jutaan rupiah lalu bertahap semakin besar hingga milyaran rupiah, pada dasarnya kita membangun mental yang siap untuk selalu berpikir positif dan jernih dalam mengambil keputusan berinvestasi.
  2. Hal yang kedua, keuntungan ketika Anda memulai investasi dengan uang kecil adalah, Anda benar-benar bisa menggunakan uang dingin Anda. Uang dingin maksudnya uang yang tidak akan Anda gunakan dalam jangka pendek misalnya di bawah 5 tahun. Mengapa ini perlu? Karena dalam investasi, kita perlu memiliki holding power, kemampuan kita untuk tidak menjual terburu-buru karena adanya keperluan mendadak. Banyak kasus terjadi, dimana rekan saya terpaksa menjual investasinya karena dana yang digunakan sebenarnya bukan uang dingin, misalnya uang untuk menikah yang akan dilangsungkan 1 tahun ke depan. Karena uang tersebut benar-benar dibutuhkan, seringkali produk investasinya terpaksa harus dijual padahal baru dibeli sebentar dan masih posisi turun, impactnya tentu jadi merugi.
  3. Hal terakhir adalah, dengan mulai berinvestasi dengan uang kecil, maka kita akan lebih menghargai proses. Sukses itu tidak instan, butuh waktu dan pengorbanan. Tentunya kita akan lebih menikmati ketika memulai awal berinvestasi dengan dana 5 juta rupiah, dan setelah 10 tahun bisa menjadi milyaran rupiah, mental kita akan terbentuk dengan baik untuk menghargai uang. Saya pribadi merasakan, ketika melihat portfolio investasi saya, ada kecenderungan saya justru berpikir sebisa mungkin penghasilan saya masuk sebanyak mungkin ke investasi, spending sebisa mungkin diatur agar tidak berlebihan. Saya lebih merasa bahagia ketika saya buka laptop dan melihat portofolio saya berisi dana 10 milyar rupiah daripada melihat garasi saya  berisi mobil mewah.
2Mar 2017

Inilah 4 Alasan Mengapa kita harus segera berinvestasi

shutterstock_287900003_1024

Apapun profesi Anda saat ini, baik sebagai karyawan, professional ataupun pengusaha, ada baiknya Anda mulai berinvestasi.
Mengapa? Pada dasarnya ada 4 alasan mengapa kita perlu melakukan investasi:

(1) Adanya kebutuhan yang belum terpenuhi saat ini atau di masa depan misalnya: rumah, melanjutkan pendidikan, pendidikan untuk anak, berlibur ke luar kota atau luar negeri bersama keluarga, dll.

(2) Inflasi yang terus menerus menggerus nilai uang Anda. Tahukah Anda bahwa jika di tahun 2000 dengan uang Rp 10,000 Anda bisa membeli 4 kg beras, sementara jika Anda beli saat ini tahun 2016 maka Anda hanya akan memperoleh 1 kg beras bahkan kurang?

Itulah yang disebut dengan inflasi yaitu suatu proses meningkatnya harga-harga yang disebabkan oleh berbagai faktor. Misalnya konsumsi masyarakat meningkat, bertambahnya jumlah uang yang beredar, atau ketidaklancaran distribusi barang. Bisa juga dikatakan bahwa inflasi adalah proses menurunnya nilai mata uang secara terus menerus.

Rata-rata inflasi 10 tahun terakhir (Feb2007 – Feb2017) menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 5.93%. Artinya jika Anda menyimpan uang Anda di bank dalam bentuk tabungan dengan bunga 2% setahun maka sebenarnya Anda tekor sebesar = 5.93%- 2% = 3.93% setiap tahunnya, atau nilai uang Anda turun 3.93% setiap tahunnya.

(3) Hidup setelah Pensiun atau tidak lagi mampu bekerja. Siapapun pasti akan memasuki masa pensiun, normalnya di Indonesia di usia 55 tahun atau lebih. Biasanya justru biaya hidup akan lebih tinggi terutama untuk menjaga kesehatan. Harapan kita setelah pensiun kita masih tetap bisa hidup dengan kualitas yang sama ketika bekerja, bagaimana bisa? Tentu bisa, biaya hidup setelah pensiun tetap bisa dipenuhi dari hasil investasi kita sebelumnya, di masa kita masih mampu bekerja. Hal ini sering disebut sebagai passive income.

(4) Keinginan untuk bebas finansial. Pensiun muda. Kondisi dimana hasil investasi cukup untuk membiayai hidup keluarga Anda, tentunya dengan gaya hidup yang anda inginkan.

Di level ini uang telah bekerja untuk anda atau bahasa kerennya “Money works for you.”

Seperti yang kita ketahui dan sering baca, ada banyak instrumen investasi seperti obligasi, emas, properti, reksadana dan saham. Dalam web ini saya tidak akan membahas keseluruhan jenis investasi di atas, namun saya akan lebih fokus untuk membahas mengenai investasi di saham sesuai dengan fokus dan bidang saya.

Mengapa saya merekomendasikan untuk berinvestasi di saham? Jawabannya sebenarnya simple saja, karena investasi saham dalam jangka panjang memberikan return yang relatif lebih besar dan konsisten dibanding instrument lainnya, yang perlu digaris bawahi di sini adalah dalam jangka panjang.

Rata-rata per tahun imbal hasil (return) dari investasi saham adalah 15-20%, setidaknya sudah ada investor saham terbaik dunia yaitu Warren Buffett yang telah melakukan investasi saham lewat perusahaan investasinya bernama Berkshire Hathaway selama 51 tahun (1965-2016) dan rata-rata return yang Buffett peroleh sebesar 20.8% serta menobatkan beliau menjadi orang terkaya dunia tahun 2008 versi majalah Forbes.

Walau demikian tetap ada resiko yang harus diperhatikan karena bagaimanapun prinisp high risk high return tetap berlaku dalam investasi apapun.

29Jun 2016

Gaya Hidup Anak Muda Millennial

 

img-8743_full

Anak-anak muda meyakini bahwa untuk menghasilkan banyak uang, kita harus menghabiskan banyak uang

Saya mulai menyadari hal ini sejak terkejut menyaksikan seorang pemenang kontes kecantikan level nasional tampil di klub malam remang-remang di Santacruz West. Kata teman yang mengajak saya ke situ, wanita itu mulai bekerja di sana waktu dia menunggu lowongan jadi artis Bollywood. Untuk dapat peran, dia harus sering terlihat melenggang di karpet merah dan pesta-pesta, makanya dia butuh beli sepatu hak tinggi dan gaun. Pertunjukan demi pertunjukan di klub itu memberikannya banyak uang. Jadilah klub itu sumber penghasilan utamanya.

Saya kenal seorang manajer pemasaran, masih muda, yang nekat kredit mobil waktu dapat gaji pertamanya tapi sekarang tidurnya di mobil. Gajinya habis untuk bayar kontrakan rumah dan cicilan mobil, tak tersisa untuk makan. Dia parkir di suatu tempat, tapi untungnya Mumbai masih tergolong kota yang aman.

Ada juga teman wartawan junior. Selama beberapa saat, dia jarang masuk kerja. Makin kelihatan kurus pula. Dia bilang itu karena dia jogging setiap sore. Tapi saat dia jarang muncul waktu makan siang, atau menyeruput kopi sepanjang hari, saya baru sadar. (Saya ngeh kalau ada yang janggal karena saya dulu pernah begitu juga.)

Saya whatsapp dia. Itu satu-satunya cara mengobrol empat mata tanpa ketahuan orang lain.

“Kamu punya uang untuk makan siang, gak?”

Ternyata dia memang lagi bokek.

Dia bilang kalau lagi punya uang, dia sabar-sabar menahan lapar biar bisa mampir ke Le Pain Quotidien (restoran roti mewah) untuk beli sandwich sisa harian yang didiskon jadi Rp40 ribu kalau malam.

Padahal dengan uang segitu, dia bisa beli makanan di kantin. Tapi menurutnya, makan tidak lebih penting dibanding eksis untuk makan roti di Le Pain Quotidien.

Inilah kaum miskin urban, gejala yang lagi melanda sebagian besar orang India. Mereka sebenarnya sama sekali tidak “miskin”. Tapi mereka lapar dan bokek. Inilah wujud masyarakat metropolitan umur dua-puluhan yang terlalu memperdulikan tekanan sosial di sekelilingnya dan menghabiskan hampir seluruh gajinya demi gaya hidup dan penampilan yang mereka yakini berpengaruh pada pekerjaan mereka.

Beban gaya hidup ini tidak bisa dicoret dari daftar pengeluaran mereka: baju-baju dan perawatan tubuh, kongkow dan makan malam di tempat mewah, biaya transport naik taksi atau Uber karena harus kerja sampai jam satu pagi, dan tagihan kopi Starbucks yang harus dibeli buat ketemu klien. Tidak lupa, sepatu hak tinggi dan gaun.

Kalau saldo rekening sudah sekarat di tanggal 20-an, mereka berpikir… balasannya tidak mungkin saat itu juga, tetapi nanti: waktu gaji naik, waktu dapat promosi jabatan, atau syukur-syukur orang tua lagi baik mau transfer uang.

Pengaruh mereka luas. Inspirasi mereka datangnya dari kisah para pengusaha muda yang pinjam uang dari perusahaan modal untuk membangun bisnis, yang katanya berhasil memutar setiap perak uang menjadi seratus kali lipat. Tapi kisah yang mereka dengar adalah tentang Mukesh Ambani, yang diwarisi perusahaan besar kemudian bisa membangun istana megah, bukannya tentang Dhirubhai, yang tinggal di rumah kecil dan membangun perusahaan besar. Kisah yang mereka dengar adalah tentang Katrina Kaif yang menghabiskan sekitar Rp100 juta rupiah untuk mengecat rambutnya. Itulah sebabnya mereka meyakini bahwa untuk menghasilkan banyak uang, kita harus menghabiskan uang yang banyak pula.

Demi bisa kuliah di kampus yang bagus, kita rela keluar uang banyak untuk bayar semesterannya. Demi dapat pekerjaan, kita habiskan tabungan untuk sekolah sampai S3 kalau perlu. Demi promosi jabatan, kita beli jas dan minuman jamuan.

Kita berpenampilan demi pekerjaan yang diimpikan, tetapi lupa bahwa sebagian besar gaji kita yang terpangkas untuk itu seharusnya digunakan untuk berpenampilan sesuai pekerjaan yang sekarang.

Setiap koran dan media memasang tajuk utama tentang apa yang perlu kita makan, tampilkan, dan pakai untuk jadi sukses. Ke mana kita harus liburan, apa parfum yang kita pakai, mobil apa yang harus kita kendarai. Tapi mereka tidak mengajarkan kita cara membayarnya.

Apa yang tersisa di diri kita adalah segerombolan anak umur dua-puluhan yang berusaha lari meninggalkan identitas pengonsumsi nasi kucing dan es teh manis, demi disangka pengonsumsi burger dan kola. Dari situ kemudian lari lagi demi dikira penggemar keju dan champagne.

Waktu saya mulai tinggal mandiri, sekitar 15 tahun lalu, gaji saya sekitar 20 juta rupiah. Untuk kontrak rumah habis 8juta, penitipan anak 8juta, dan 4  juta sisanya untuk ongkos dan listrik. Untuk belanja kebutuhan sehari-hari, saya pakai kartu kredit. Saya masih umur 25 tahun, anak saya satu tahun, dan kadang kami beli es krim, nonton bioskop, atau menikmati hiburan juga pakai kartu kredit. Ketika pindah kerja dengan gaji yang lebih tinggi, kartu kredit saya mencapai limitnya dan harus segera dibayar. Selisih kenaikan gaji itu saya gunakan untuk melunasi, karena saya sudah memakai uang yang malah belum saya terima.

Cepat saya pahami, bersama kenaikan gaji, biaya kebutuhan juga semakin tinggi. Selama menjalani pekerjaan saya yang pertama, rasanya punya satu jins dengan tiga atasan yang dipakai bergantian tiap hari juga sudah cukup. Jabatan yang semakin meningkat membuat saya perlu pakaian yang lebih bagus. Saya diharuskan tampil “berwibawa”. Makan siang di sini, senang-senang di situ, lalu rapat di kedai kopi mewah.

Saya berusaha keras menentang lingkungan yang bersekongkol menjerat profesional muda ke jurang kebangkrutan. Saya selalu menghitung dalam hati sebelum memutuskan beli sesuatu. Terkadang saya hanya beli satu botol bir dan meminumnya sedikit-sedikit.

Sekarang, di mana pun, saya bisa menebak mana orang-orang yang di ambang kebangkrutan: vegetarian yang tidak makan salad pembuka, orang yang cuma minum air putih, atau junior yang mengaku sudah makan untuk menolak tawaran makan malam. Dan ketika, setelah makan bareng, orang yang bersama mereka dengan santainya mengajak untuk patungan, kelihatan mereka inilah yang pura-pura menunduk.

Saya juga pernah seperti itu. Kita tidak bisa menolak ajakan seperti itu karena nanti kita terkesan pelit. Jadi, terlepas dari apakah kita mampu membayar makanan yang memang kita pesan untuk kita sendiri, mau tidak mau kita juga harus ikut bayar makanan yang dipesan teman kita.

Kemudian, recehan logam terasa sangat berharga. Kita mencari-cari recehan yang menyelip di pojok sofa. Kita menunggu kantor sepi lalu naik bus pulang ke rumah.

Sekarang, saya kadang sengaja berpapasan dengan teman kantor yang masih junior dan bertanya, “Udah makan belum? Saya traktir kopi, yuk? Nanti pulangnya mau bareng, nggak?” Terkadang, mereka gengsi dan menolak tawaran itu. Terkadang juga, gengsi mereka runtuh dan mereka mengangguk.

Orang tua mereka, generasi yang jarang berdiskusi soal uang, mengajari mereka bahwa tidak ada harga yang terlalu mahal untuk kebahagiaan diri sendiri. Kalau orang tua mereka menelepon dan menawarkan diri mentransfer mereka uang, mereka bilang tak perlu, semuanya masih bisa diatur. “Iya, Pah, makannya dijaga kok, di kantor baik-baik saja.” Dibesarkan oleh orang tua yang mengorbankan segalanya untuk kebahagiaan mereka, anak-anak ini sebenarnya diam-diam belajar hidup prihatin.

Orang yang bisa melewati masa sulit selalu dilabeli “tangguh”, padahal “tangguh” berarti perut lapar dan isak tangis yang tertahan. Terkadang, saya merasa saya sudah melalui masa-masa itu.

Baru-baru ini, saya sedang mewawancarai seorang pelamar yang memotong pertanyaan saya hanya untuk bilang, “Sis, supir saya HP-nya lebih bagus dari punyamu,” sambil tertawa. “Beli iPhone, kek!”

Penampilan saya sudah mentereng. Saya punya rumah. Tabungan juga lebih dari cukup. Tapi bahan ledekan kok tidak juga berubah selama 10 tahun.

Bulan lalu, saya mulai nge-twit kaum miskin urban ini, dan banyak yang merespon, “saya juga”.

Satu orang mengaku bahwa selama tiga tahun di Jerman, dia cuma makan tomat, menghemat uang agar bisa beli coklat untuk keluarganya ketika pulang kampung. Ada yang bilang, “Semuanya baik-baik saja kok!” lewat telepon jarak-jauh ke kampung halaman hanya agar ibunya berpikir pengorbanan ibunya menjual gelang untuk ongkosnya mengembara tidak sia-sia.

Ada yang tidur di kasur single dan menyimpan sepatu kets di kolong meja kerja untuk dipakai jalan kaki sepanjang 8 km saat pulang kantor setiap malam.

Saya juga pernah dengar cerita soal anak-anak bagian pemasaran yang kelaparan setiap hari hanya untuk ngopi di hotel bintang lima.

Ada juga seorang ayah yang tidak pernah liburan selama 13 tahun hanya agar bisa membiayai pendidikan anaknya di luar negeri.

Ada yang pernah bertahan seharian hanya minum air dan menumpang di truk untuk berangkat ke kampus.

Ada yang dijuluki pelit karena tidak pernah makan di luar.

Di negara yang wabah kelaparan nyata terjadi di mana-mana, “kelaparan” yang semacam ini datangnya dari pilihan gaya hidup. Entah bagaimana, kita telah membangun budaya yang menempatkan penampilan sebagai nilai utama, hingga kita rela menghabiskan banyak uang untuk kelihatan kenyang ketimbang menyisihkan sedikit uang untuk benar-benar makan.

“Kelaparan” ini menyentuh setiap orang dengan cara yang berbeda-beda—bisa sementara atau selamanya, bisa ringan atau parah, bisa sekali atau berkali-kali. Tapi sekali kita menyadari hal itu di sekeliling kita, sulit sekali untuk mengabaikannya. Kita jadi anggota suatu kaum yang mengerti kenapa rekan kerja kita tumben-tumbennya bawa bekal makan, kelihatan kurusan, dan menghabiskan waktu sampai malam di kantor agar tidak perlu bayar jemputan. Kalau dahulu, walau sebentar, kita pernah merasakan “kelaparan” seperti itu, kita akan sadar bahwa ternyata semua orang pun begitu.

____

(Catatan Editor: Ini adalah terjemahan artikel “The Urban Poor You Haven’t Noticed: Millennials Who’re Broke, Hungry, But On Trend” yang ditulis Gayatri Jayaraman di laman Buzzfeed tanggal 5 Mei 2016. Artikel asli tulisan ini bersituasi di negara India. Nama tempat, mata uang, dan aspek lainnya menyesuaikan yang sebenarnya di India.)

 

9Jun 2016

Tawaran belanja dengan kartu kredit cicilan 0%

creditcard

Belanja dgn kartu kredit cicilan 0% terlihat ringan dan menggiurkan

Namun sebenarnya, tanpa disadari Anda sebenarnya sedang berada dalam psychology game

Yang sering terjadi, karena merasa ringan, banyak orang yg justru semakin konsumtif dan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan


Disinilah masalah mulai muncul, ketika semakin banyak barang yg dibeli, semakin besar akumulasi cicilan yg harus dibayar

Bahkan banyak yg sampai berada pada titik, penghasilan sebulan serasa habis untuk hanya membayar cicilan kartu kredit

Jadi, bijaklah menggunakan cicilan 0%, jika Anda sulit mengendalikan nafsu belanja, saran saya hindari membeli barang dgn kartu kredit

www.yossygirsang.com

9Jun 2016

Investasi sedikit demi sedikit

invest1

Tahun 2005, ketika baru beberapa bulan bekerja, saya membuka rekening reksadana saham

Pada awalnya, saya sisihkan 500ribu setiap bulan, dan setiap tahun ketika gaji naik, jumlah yang saya sisihkan pun bertambah

Ketika sudah berumah tangga tahun 2010, dan putra kami lahir tahun 2011, saya juga membuka rekening untuk istri dan anak saya


Sekarang per bulan saya setorkan sekitar 5 juta rupiah per rekening

Bulan lalu, kesabaran saya selama hampir 11 tahun tidak sia sia, dana yang terkumpul cukup untuk membeli tanah di Pulau Dewata

Mengapa saya bisa bersabar?

Karena saya memahami rahasia kekuatan investasi yaitu bunga majemuk

Jika rekan-rekan hendak tahu bagaimana bunga majemuk bekerja, bisa dibaca di link berikut ini

Rahasia Kekuatan Investasi

9Jun 2016

3 Tips Hidup Bebas Hutang

free

1. Pisahkan antara KEBUTUHAN dan KEINGINAN

Anda harus mampu memisahkan antara kebutuhan dan keigninan. Pasti Anda punya banyak barang-barang di rumah yang dibeli hanya karena ingin, karena sebetulnya tidak benar-benar butuh. Sebelum membeli sesuatu, pelajari dengan seksama produk tersebut. Jika Anda pikir kebutuhannya mendesak, barulah Anda keluarkan rupiah. Jika ternyata hanya ingin beli, Anda bisa menunggu sampai terbebas dari utang terlebih dahulu.

2. Bayar Tagihan tepat waktu & Hindari Pembayaran Minimal Batas Hutang

Selalu bayar semua tagihan, termasuk utang tepat waktu. Karena selain menunda-nunda itu tidak baik, Anda juga akan terkena tambahan bunga jika telat membayar. Jika memungkinkan, minta bank Anda secara otomatis membayar tagihan melalui rekening.

Berhematlah dalam pemakaian energi, seperti listrik, BBM dan gas supaya tagihannya tidak terlalu besar. Ketika ingin menarik uang dari ATM, cari mesin yang tidak memotong biaya transaksi.

Kebanyakan bank mematok pembayaran utang minimum per bulan berkisar antara 2-5% dari total. Jangan termakan umpan yang diberikan bank tersebut, karena dengan cara itu Anda akan terjebak membayar utang dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Semakin lama Anda berutang kepada bank, semakin banyak uang yang harus Anda keluarkan. Jangan biarkan kebiasaan ini menguasai Anda. Bayarlah utang semampu mungkin tanpa harus membebani pengeluaran bulanan lainnya.

3. Potong Anggaran Hiburan

Jangan sering nongkrong dengan teman yang kerjaannya hanya berhura-hura setiap malam. Anda harus ingat, bersenang-senang itu tidak gratis. Hindari membeli sarapan dan kopi di kantin untuk sarapan jika memang Anda bisa menyiapkannya di rumah sebelum berangkat.

Lebih jauh lagi, jika anda penggemar film bioskop, Anda bisa menontonnya di hari-hari kerja saat malam hari, yang biasanya lebih murah ketimbang di akhir pekan. Hidup bebas dari utang itu hanya masalah mengubah gaya hidup. Semakin cepat anda mengikuti beberapa tips di atas, semakin cepat anda bisa terbebas dari utang.

Page 1 of 41234