1. Yossy Girsang
  2. Pemula

Pemula

2Mar 2017

Inilah 4 Alasan Mengapa kita harus segera berinvestasi

shutterstock_287900003_1024

Apapun profesi Anda saat ini, baik sebagai karyawan, professional ataupun pengusaha, ada baiknya Anda mulai berinvestasi.
Mengapa? Pada dasarnya ada 4 alasan mengapa kita perlu melakukan investasi:

(1) Adanya kebutuhan yang belum terpenuhi saat ini atau di masa depan misalnya: rumah, melanjutkan pendidikan, pendidikan untuk anak, berlibur ke luar kota atau luar negeri bersama keluarga, dll.

(2) Inflasi yang terus menerus menggerus nilai uang Anda. Tahukah Anda bahwa jika di tahun 2000 dengan uang Rp 10,000 Anda bisa membeli 4 kg beras, sementara jika Anda beli saat ini tahun 2016 maka Anda hanya akan memperoleh 1 kg beras bahkan kurang?

Itulah yang disebut dengan inflasi yaitu suatu proses meningkatnya harga-harga yang disebabkan oleh berbagai faktor. Misalnya konsumsi masyarakat meningkat, bertambahnya jumlah uang yang beredar, atau ketidaklancaran distribusi barang. Bisa juga dikatakan bahwa inflasi adalah proses menurunnya nilai mata uang secara terus menerus.

Rata-rata inflasi 10 tahun terakhir (Feb2007 – Feb2017) menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 5.93%. Artinya jika Anda menyimpan uang Anda di bank dalam bentuk tabungan dengan bunga 2% setahun maka sebenarnya Anda tekor sebesar = 5.93%- 2% = 3.93% setiap tahunnya, atau nilai uang Anda turun 3.93% setiap tahunnya.

(3) Hidup setelah Pensiun atau tidak lagi mampu bekerja. Siapapun pasti akan memasuki masa pensiun, normalnya di Indonesia di usia 55 tahun atau lebih. Biasanya justru biaya hidup akan lebih tinggi terutama untuk menjaga kesehatan. Harapan kita setelah pensiun kita masih tetap bisa hidup dengan kualitas yang sama ketika bekerja, bagaimana bisa? Tentu bisa, biaya hidup setelah pensiun tetap bisa dipenuhi dari hasil investasi kita sebelumnya, di masa kita masih mampu bekerja. Hal ini sering disebut sebagai passive income.

(4) Keinginan untuk bebas finansial. Pensiun muda. Kondisi dimana hasil investasi cukup untuk membiayai hidup keluarga Anda, tentunya dengan gaya hidup yang anda inginkan.

Di level ini uang telah bekerja untuk anda atau bahasa kerennya “Money works for you.”

Seperti yang kita ketahui dan sering baca, ada banyak instrumen investasi seperti obligasi, emas, properti, reksadana dan saham. Dalam web ini saya tidak akan membahas keseluruhan jenis investasi di atas, namun saya akan lebih fokus untuk membahas mengenai investasi di saham sesuai dengan fokus dan bidang saya.

Mengapa saya merekomendasikan untuk berinvestasi di saham? Jawabannya sebenarnya simple saja, karena investasi saham dalam jangka panjang memberikan return yang relatif lebih besar dan konsisten dibanding instrument lainnya, yang perlu digaris bawahi di sini adalah dalam jangka panjang.

Rata-rata per tahun imbal hasil (return) dari investasi saham adalah 15-20%, setidaknya sudah ada investor saham terbaik dunia yaitu Warren Buffett yang telah melakukan investasi saham lewat perusahaan investasinya bernama Berkshire Hathaway selama 51 tahun (1965-2016) dan rata-rata return yang Buffett peroleh sebesar 20.8% serta menobatkan beliau menjadi orang terkaya dunia tahun 2008 versi majalah Forbes.

Walau demikian tetap ada resiko yang harus diperhatikan karena bagaimanapun prinisp high risk high return tetap berlaku dalam investasi apapun.

29Jun 2016

Gaya Hidup Anak Muda Millennial

 

img-8743_full

Anak-anak muda meyakini bahwa untuk menghasilkan banyak uang, kita harus menghabiskan banyak uang

Saya mulai menyadari hal ini sejak terkejut menyaksikan seorang pemenang kontes kecantikan level nasional tampil di klub malam remang-remang di Santacruz West. Kata teman yang mengajak saya ke situ, wanita itu mulai bekerja di sana waktu dia menunggu lowongan jadi artis Bollywood. Untuk dapat peran, dia harus sering terlihat melenggang di karpet merah dan pesta-pesta, makanya dia butuh beli sepatu hak tinggi dan gaun. Pertunjukan demi pertunjukan di klub itu memberikannya banyak uang. Jadilah klub itu sumber penghasilan utamanya.

Saya kenal seorang manajer pemasaran, masih muda, yang nekat kredit mobil waktu dapat gaji pertamanya tapi sekarang tidurnya di mobil. Gajinya habis untuk bayar kontrakan rumah dan cicilan mobil, tak tersisa untuk makan. Dia parkir di suatu tempat, tapi untungnya Mumbai masih tergolong kota yang aman.

Ada juga teman wartawan junior. Selama beberapa saat, dia jarang masuk kerja. Makin kelihatan kurus pula. Dia bilang itu karena dia jogging setiap sore. Tapi saat dia jarang muncul waktu makan siang, atau menyeruput kopi sepanjang hari, saya baru sadar. (Saya ngeh kalau ada yang janggal karena saya dulu pernah begitu juga.)

Saya whatsapp dia. Itu satu-satunya cara mengobrol empat mata tanpa ketahuan orang lain.

“Kamu punya uang untuk makan siang, gak?”

Ternyata dia memang lagi bokek.

Dia bilang kalau lagi punya uang, dia sabar-sabar menahan lapar biar bisa mampir ke Le Pain Quotidien (restoran roti mewah) untuk beli sandwich sisa harian yang didiskon jadi Rp40 ribu kalau malam.

Padahal dengan uang segitu, dia bisa beli makanan di kantin. Tapi menurutnya, makan tidak lebih penting dibanding eksis untuk makan roti di Le Pain Quotidien.

Inilah kaum miskin urban, gejala yang lagi melanda sebagian besar orang India. Mereka sebenarnya sama sekali tidak “miskin”. Tapi mereka lapar dan bokek. Inilah wujud masyarakat metropolitan umur dua-puluhan yang terlalu memperdulikan tekanan sosial di sekelilingnya dan menghabiskan hampir seluruh gajinya demi gaya hidup dan penampilan yang mereka yakini berpengaruh pada pekerjaan mereka.

Beban gaya hidup ini tidak bisa dicoret dari daftar pengeluaran mereka: baju-baju dan perawatan tubuh, kongkow dan makan malam di tempat mewah, biaya transport naik taksi atau Uber karena harus kerja sampai jam satu pagi, dan tagihan kopi Starbucks yang harus dibeli buat ketemu klien. Tidak lupa, sepatu hak tinggi dan gaun.

Kalau saldo rekening sudah sekarat di tanggal 20-an, mereka berpikir… balasannya tidak mungkin saat itu juga, tetapi nanti: waktu gaji naik, waktu dapat promosi jabatan, atau syukur-syukur orang tua lagi baik mau transfer uang.

Pengaruh mereka luas. Inspirasi mereka datangnya dari kisah para pengusaha muda yang pinjam uang dari perusahaan modal untuk membangun bisnis, yang katanya berhasil memutar setiap perak uang menjadi seratus kali lipat. Tapi kisah yang mereka dengar adalah tentang Mukesh Ambani, yang diwarisi perusahaan besar kemudian bisa membangun istana megah, bukannya tentang Dhirubhai, yang tinggal di rumah kecil dan membangun perusahaan besar. Kisah yang mereka dengar adalah tentang Katrina Kaif yang menghabiskan sekitar Rp100 juta rupiah untuk mengecat rambutnya. Itulah sebabnya mereka meyakini bahwa untuk menghasilkan banyak uang, kita harus menghabiskan uang yang banyak pula.

Demi bisa kuliah di kampus yang bagus, kita rela keluar uang banyak untuk bayar semesterannya. Demi dapat pekerjaan, kita habiskan tabungan untuk sekolah sampai S3 kalau perlu. Demi promosi jabatan, kita beli jas dan minuman jamuan.

Kita berpenampilan demi pekerjaan yang diimpikan, tetapi lupa bahwa sebagian besar gaji kita yang terpangkas untuk itu seharusnya digunakan untuk berpenampilan sesuai pekerjaan yang sekarang.

Setiap koran dan media memasang tajuk utama tentang apa yang perlu kita makan, tampilkan, dan pakai untuk jadi sukses. Ke mana kita harus liburan, apa parfum yang kita pakai, mobil apa yang harus kita kendarai. Tapi mereka tidak mengajarkan kita cara membayarnya.

Apa yang tersisa di diri kita adalah segerombolan anak umur dua-puluhan yang berusaha lari meninggalkan identitas pengonsumsi nasi kucing dan es teh manis, demi disangka pengonsumsi burger dan kola. Dari situ kemudian lari lagi demi dikira penggemar keju dan champagne.

Waktu saya mulai tinggal mandiri, sekitar 15 tahun lalu, gaji saya sekitar 20 juta rupiah. Untuk kontrak rumah habis 8juta, penitipan anak 8juta, dan 4  juta sisanya untuk ongkos dan listrik. Untuk belanja kebutuhan sehari-hari, saya pakai kartu kredit. Saya masih umur 25 tahun, anak saya satu tahun, dan kadang kami beli es krim, nonton bioskop, atau menikmati hiburan juga pakai kartu kredit. Ketika pindah kerja dengan gaji yang lebih tinggi, kartu kredit saya mencapai limitnya dan harus segera dibayar. Selisih kenaikan gaji itu saya gunakan untuk melunasi, karena saya sudah memakai uang yang malah belum saya terima.

Cepat saya pahami, bersama kenaikan gaji, biaya kebutuhan juga semakin tinggi. Selama menjalani pekerjaan saya yang pertama, rasanya punya satu jins dengan tiga atasan yang dipakai bergantian tiap hari juga sudah cukup. Jabatan yang semakin meningkat membuat saya perlu pakaian yang lebih bagus. Saya diharuskan tampil “berwibawa”. Makan siang di sini, senang-senang di situ, lalu rapat di kedai kopi mewah.

Saya berusaha keras menentang lingkungan yang bersekongkol menjerat profesional muda ke jurang kebangkrutan. Saya selalu menghitung dalam hati sebelum memutuskan beli sesuatu. Terkadang saya hanya beli satu botol bir dan meminumnya sedikit-sedikit.

Sekarang, di mana pun, saya bisa menebak mana orang-orang yang di ambang kebangkrutan: vegetarian yang tidak makan salad pembuka, orang yang cuma minum air putih, atau junior yang mengaku sudah makan untuk menolak tawaran makan malam. Dan ketika, setelah makan bareng, orang yang bersama mereka dengan santainya mengajak untuk patungan, kelihatan mereka inilah yang pura-pura menunduk.

Saya juga pernah seperti itu. Kita tidak bisa menolak ajakan seperti itu karena nanti kita terkesan pelit. Jadi, terlepas dari apakah kita mampu membayar makanan yang memang kita pesan untuk kita sendiri, mau tidak mau kita juga harus ikut bayar makanan yang dipesan teman kita.

Kemudian, recehan logam terasa sangat berharga. Kita mencari-cari recehan yang menyelip di pojok sofa. Kita menunggu kantor sepi lalu naik bus pulang ke rumah.

Sekarang, saya kadang sengaja berpapasan dengan teman kantor yang masih junior dan bertanya, “Udah makan belum? Saya traktir kopi, yuk? Nanti pulangnya mau bareng, nggak?” Terkadang, mereka gengsi dan menolak tawaran itu. Terkadang juga, gengsi mereka runtuh dan mereka mengangguk.

Orang tua mereka, generasi yang jarang berdiskusi soal uang, mengajari mereka bahwa tidak ada harga yang terlalu mahal untuk kebahagiaan diri sendiri. Kalau orang tua mereka menelepon dan menawarkan diri mentransfer mereka uang, mereka bilang tak perlu, semuanya masih bisa diatur. “Iya, Pah, makannya dijaga kok, di kantor baik-baik saja.” Dibesarkan oleh orang tua yang mengorbankan segalanya untuk kebahagiaan mereka, anak-anak ini sebenarnya diam-diam belajar hidup prihatin.

Orang yang bisa melewati masa sulit selalu dilabeli “tangguh”, padahal “tangguh” berarti perut lapar dan isak tangis yang tertahan. Terkadang, saya merasa saya sudah melalui masa-masa itu.

Baru-baru ini, saya sedang mewawancarai seorang pelamar yang memotong pertanyaan saya hanya untuk bilang, “Sis, supir saya HP-nya lebih bagus dari punyamu,” sambil tertawa. “Beli iPhone, kek!”

Penampilan saya sudah mentereng. Saya punya rumah. Tabungan juga lebih dari cukup. Tapi bahan ledekan kok tidak juga berubah selama 10 tahun.

Bulan lalu, saya mulai nge-twit kaum miskin urban ini, dan banyak yang merespon, “saya juga”.

Satu orang mengaku bahwa selama tiga tahun di Jerman, dia cuma makan tomat, menghemat uang agar bisa beli coklat untuk keluarganya ketika pulang kampung. Ada yang bilang, “Semuanya baik-baik saja kok!” lewat telepon jarak-jauh ke kampung halaman hanya agar ibunya berpikir pengorbanan ibunya menjual gelang untuk ongkosnya mengembara tidak sia-sia.

Ada yang tidur di kasur single dan menyimpan sepatu kets di kolong meja kerja untuk dipakai jalan kaki sepanjang 8 km saat pulang kantor setiap malam.

Saya juga pernah dengar cerita soal anak-anak bagian pemasaran yang kelaparan setiap hari hanya untuk ngopi di hotel bintang lima.

Ada juga seorang ayah yang tidak pernah liburan selama 13 tahun hanya agar bisa membiayai pendidikan anaknya di luar negeri.

Ada yang pernah bertahan seharian hanya minum air dan menumpang di truk untuk berangkat ke kampus.

Ada yang dijuluki pelit karena tidak pernah makan di luar.

Di negara yang wabah kelaparan nyata terjadi di mana-mana, “kelaparan” yang semacam ini datangnya dari pilihan gaya hidup. Entah bagaimana, kita telah membangun budaya yang menempatkan penampilan sebagai nilai utama, hingga kita rela menghabiskan banyak uang untuk kelihatan kenyang ketimbang menyisihkan sedikit uang untuk benar-benar makan.

“Kelaparan” ini menyentuh setiap orang dengan cara yang berbeda-beda—bisa sementara atau selamanya, bisa ringan atau parah, bisa sekali atau berkali-kali. Tapi sekali kita menyadari hal itu di sekeliling kita, sulit sekali untuk mengabaikannya. Kita jadi anggota suatu kaum yang mengerti kenapa rekan kerja kita tumben-tumbennya bawa bekal makan, kelihatan kurusan, dan menghabiskan waktu sampai malam di kantor agar tidak perlu bayar jemputan. Kalau dahulu, walau sebentar, kita pernah merasakan “kelaparan” seperti itu, kita akan sadar bahwa ternyata semua orang pun begitu.

____

(Catatan Editor: Ini adalah terjemahan artikel “The Urban Poor You Haven’t Noticed: Millennials Who’re Broke, Hungry, But On Trend” yang ditulis Gayatri Jayaraman di laman Buzzfeed tanggal 5 Mei 2016. Artikel asli tulisan ini bersituasi di negara India. Nama tempat, mata uang, dan aspek lainnya menyesuaikan yang sebenarnya di India.)

 

9Jun 2016

Tawaran belanja dengan kartu kredit cicilan 0%

creditcard

Belanja dgn kartu kredit cicilan 0% terlihat ringan dan menggiurkan

Namun sebenarnya, tanpa disadari Anda sebenarnya sedang berada dalam psychology game

Yang sering terjadi, karena merasa ringan, banyak orang yg justru semakin konsumtif dan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan


Disinilah masalah mulai muncul, ketika semakin banyak barang yg dibeli, semakin besar akumulasi cicilan yg harus dibayar

Bahkan banyak yg sampai berada pada titik, penghasilan sebulan serasa habis untuk hanya membayar cicilan kartu kredit

Jadi, bijaklah menggunakan cicilan 0%, jika Anda sulit mengendalikan nafsu belanja, saran saya hindari membeli barang dgn kartu kredit

www.yossygirsang.com

9Jun 2016

Investasi sedikit demi sedikit

invest1

Tahun 2005, ketika baru beberapa bulan bekerja, saya membuka rekening reksadana saham

Pada awalnya, saya sisihkan 500ribu setiap bulan, dan setiap tahun ketika gaji naik, jumlah yang saya sisihkan pun bertambah

Ketika sudah berumah tangga tahun 2010, dan putra kami lahir tahun 2011, saya juga membuka rekening untuk istri dan anak saya


Sekarang per bulan saya setorkan sekitar 5 juta rupiah per rekening

Bulan lalu, kesabaran saya selama hampir 11 tahun tidak sia sia, dana yang terkumpul cukup untuk membeli tanah di Pulau Dewata

Mengapa saya bisa bersabar?

Karena saya memahami rahasia kekuatan investasi yaitu bunga majemuk

Jika rekan-rekan hendak tahu bagaimana bunga majemuk bekerja, bisa dibaca di link berikut ini

Rahasia Kekuatan Investasi

9Jun 2016

3 Tips Hidup Bebas Hutang

free

1. Pisahkan antara KEBUTUHAN dan KEINGINAN

Anda harus mampu memisahkan antara kebutuhan dan keigninan. Pasti Anda punya banyak barang-barang di rumah yang dibeli hanya karena ingin, karena sebetulnya tidak benar-benar butuh. Sebelum membeli sesuatu, pelajari dengan seksama produk tersebut. Jika Anda pikir kebutuhannya mendesak, barulah Anda keluarkan rupiah. Jika ternyata hanya ingin beli, Anda bisa menunggu sampai terbebas dari utang terlebih dahulu.

2. Bayar Tagihan tepat waktu & Hindari Pembayaran Minimal Batas Hutang

Selalu bayar semua tagihan, termasuk utang tepat waktu. Karena selain menunda-nunda itu tidak baik, Anda juga akan terkena tambahan bunga jika telat membayar. Jika memungkinkan, minta bank Anda secara otomatis membayar tagihan melalui rekening.

Berhematlah dalam pemakaian energi, seperti listrik, BBM dan gas supaya tagihannya tidak terlalu besar. Ketika ingin menarik uang dari ATM, cari mesin yang tidak memotong biaya transaksi.

Kebanyakan bank mematok pembayaran utang minimum per bulan berkisar antara 2-5% dari total. Jangan termakan umpan yang diberikan bank tersebut, karena dengan cara itu Anda akan terjebak membayar utang dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Semakin lama Anda berutang kepada bank, semakin banyak uang yang harus Anda keluarkan. Jangan biarkan kebiasaan ini menguasai Anda. Bayarlah utang semampu mungkin tanpa harus membebani pengeluaran bulanan lainnya.

3. Potong Anggaran Hiburan

Jangan sering nongkrong dengan teman yang kerjaannya hanya berhura-hura setiap malam. Anda harus ingat, bersenang-senang itu tidak gratis. Hindari membeli sarapan dan kopi di kantin untuk sarapan jika memang Anda bisa menyiapkannya di rumah sebelum berangkat.

Lebih jauh lagi, jika anda penggemar film bioskop, Anda bisa menontonnya di hari-hari kerja saat malam hari, yang biasanya lebih murah ketimbang di akhir pekan. Hidup bebas dari utang itu hanya masalah mengubah gaya hidup. Semakin cepat anda mengikuti beberapa tips di atas, semakin cepat anda bisa terbebas dari utang.

9Jun 2016

Bahagia gaya Millionaire

Mendengar kata “Millionaire”, yang muncul di benak Anda biasanya gambaran seseorang dengan rumah super mewah, jet pribadi, mobil mahal dan lain-lain.

Kenyataannya, banyak Millionaire modern yang memiliki gaya hidup kelas menengah, seperti berbelanja di hipermarket dan barang diskon.

“Bagi orang-orang kaya, bukan lagi benda yang mereka inginkan, tetapi kebebasan untuk memutuskan apa yang mereka mau,” ujar T. Harv Eker, penulis buku Secrets of the Millionaire Mind.
“Kekayaan berarti Anda bisa menyekolahkan anak ke sekolah mana pun dan berhenti dari pekerjaan yang tidak Anda sukai.”

Yang menarik dari pengamatan Harv, ternyata orang kaya zaman sekarang sangat cermat dalam membelanjakan uang mereka.

Sejumlah miliarder tetap menempati rumah mereka di kawasan kelas menengah, tanpa tetangga tahu bahwa mereka adalah miliarder, mengendarai mobil yang relatif murah, bahkan memilih membawa air dari rumah ketimbang membeli air mineral kemasan.

Dengan kata lain, rahasia terbesar menjadi miliarder adalah berhenti bersikap boros.

(www.readersdigest.co.id)

9Jun 2016

Crucial Thing You Do Not Know About Millionaires

Who are we kidding? everyone wants to be a millionaire. The problem is that too many people have a dream without a plan of action. Millionaires are so wealthy and successful because they personify some key qualities.

It is not about being greedy or about having that fancy lifestyle. It is all about a mindset and an approach to their work that makes them so damn successful. Anyone can achieve the status of a millionaire if they understand what they must do to achieve it.

They Do Not Look & Feel Rich

If you see that guy driving a fancy car wearing some of the most expensive name brands out there, chances are that he actually is not a millionaire. The most successful people in fact do not really look and feel rich.

The average dressed guy driving a Prius can truly be a millionaire. You had never know because of his ordinary appearance. Most millionaires understand what items create wealth and what items destroy wealth. Cars, clothes and the maintenance of a high-end lifestyle are true wealth killers.

Page 1 of 3123