1. Yossy Girsang
  2. Lanjutan
  3. Gak perlu IQ tinggi untuk bisa berinvestasi

Artikel

9Mar 2017

Gak perlu IQ tinggi untuk bisa berinvestasi

15940636_1423719894305391_5521939106261852320_n

Bu Silvi, pekerjaannya saat ini sebagai ibu rumah tangga, mengurusi suami dan kedua puteranya yang lucu-lucu berusia 5 tahun dan 2 tahun. Suaminya Pak Arsya bekerja sebagai kepala cabang Bank swasta di Bandung. Sebelum menikah, mereka memang sudah sepakat membagi tugas dan peran masing-masing dimana Pak Arsya fokus di luar rumah mencari nafkah untuk keluarga sedangkan Bu Silvi fokus mengawasi anak-anak dan segala keperluan keluarga mereka di rumah.

Pak Arsya sudah lama mengenal pasar saham, hampir 6 tahun sejak dia mulai bekerja sebagai karyawan di Bank tersebut. Dia belajar dari sepupunya yang juga sudah sangat lama terjun di pasar saham.

Di Januari tahun 2012 yang lalu, Pak Arsya melihat bahwa sudah sudah saatnya istrinya bu Silvi diperkenalkan dengan saham, pikirnya sekalian istrinya ada kegiatan lain yang positif dan bisa menghasilkan uang. Oleh karena itu, Pak Arsya berinisiatif di januari akhir membuka rekening investasi saham untuk istrinya di perusahaan sekuritas yang sama dengan akunnya sendiri dengan modal 10 juta rupiah.

Ketika akun itu sudah jadi, Pak Arsya pun mulai mengajari istrinya mengenai saham mulai dari cara bertransaksi, bagaimana memilih saham, kapan menjual dan membeli saham. Bu Silvi sebenarnya sangat tertarik untuk mendalami tentang investasi saham ini. Namun kadang kendalanya adalah waktu, sering kali ketika dia hendak melihat pergerakan harga saham di laptopnya, anak sulungnya langsung datang dan meminta untuk bermain game di laptop ibunya. Pagi dia disibukkan dengan kegiatan mengantar anaknya yang pertama ke TK, masak dan bersih-bersih rumah, siang jemput lagi, dan sore memandikan anaknya lalu mengajak mereka bermain sebelum suaminya tiba di rumah untuk mereka makan malam bersama.

Praktis sebenarnya Bu Silvi gak punya waktu untuk mendalami pengetahuannya tentang investasi saham, akhirnya dia punya bertanya ke suaminya,” Pak, saham bagus yang bapak punya apa saja? Ntar ibu ikut aja deh dulu, soalnya belum sempat nih untuk baca-baca dan cari tahu saham yang bagus apa saja.”

Pak Arsya pun menjawab bahwa saat ini dia sedang tertarik dengan saham Unilever (UNVR).

“Ooo begitu ya Pak, itu khan perusahaan besar ya Pak dan terkenal?”

“Ya bu, Unilever Indonesia selalu mencetak laba bersih setiap tahun, perusahaan bagus itu”, demikan kata suaminya.

Esok paginya ketika pasar saham sudah buka tanpa memberitahu suaminya, Bu Silvi langsung membelikan beberapa lot saham UNVR di harga 20,000 rupiah per lembar, tepatnya hari itu tanggal 30 Maret 2012 ketika hari ulang tahun anaknya yang kedua.

Di Mei 2012, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, ternyata kabar baik datang pada keluarga itu, Bu Silvi positif hamil calon anaknya yang ketiga. Mereka sangat berbahagia karena memang Pak Arsya dan Bu Silvi berharap mereka akan memiliki anak ke-3, semoga saja perempuan berhubung anak pertama dan kedua sudah laki-laki, biar Bu Silvi nantinya punya teman anak perempuan di rumah. Sehingga selama hamil hingga melahirkan, dikarenakan mengurus rumah dan ke-3 anaknya walau dibantu seorang Emak pembantu rumah tangga, Bu Silvi tidak sempat lagi memonitor pergerakan saham kalbe farma yang dibelinya di bulan Maret 2012 yang lalu.

Hari ini tepat tanggal 10 Maret 2017, keluarga itu lagi santai sambil menikmati pisang goreng dan teh manis di ruang nonton.

Pak Arsya iseng bertanya: “Gimana bu sahamnya? Udah beli apa saja?” Sebenarnya Pak Arsya pasrah saja jika nantinya Bu Silvia bilang bahwa dia merugi, pikirnya “Namanya juga orang baru belajar saham wajarlah kalau merugi.”

“Oalah pak, Ibu baru ingat, dulu itu setelah Bapak bilang kalau saham Unilever bagus, langsung besoknya pas ulang tahun anak kita Ibu beli saham itu, kalo gak salah di harga 20,000 rupiah.

Pak Arsya:” Oh ya?? Trus udah dijual?

Bu Silvi: “Belum Pak, gak sempat ngurusin sahamnya, tau sendiri khan Ibu masih fokus ngurusin anak-anak kita.”

Pak Arsya:” Wah wah wah, sekarang harganya sudah 42,300 loh bu, berarti sudah naik lebih 111%-an sejak ibu beli 5 tahun yang lalu!!!!

Bu Silvi hanya melongo lalu bilang: “Masa sih Pak????”

Dan tahukah Anda, kenapa Pak Arsya sangat terkejut? Soalnya Pak Arsya juga membeli saham yang sama, saham yang dia sarankan ke istrinya, tapi keuntungan nya di saham ini tidak sebaik yang dimiliki bu Silvi, karena apa? karena Pak Arsya sering melakukan jual beli dalam waktu pendek, ketika sudah untung sedikit 3-5% langsung dijual, padahal saham tsb masih naik lagi. Akhirnya keuntungan bersih Pak Arsya dari jual beli saham UNVR ini gak lebih dari 35% selama 5 tahun karena dia juga sering salah timing beli dimana setelah beli harganya saham itu malah turun sehingga dia langsung jual sahamnya merugi, padahal cuma turun sedikit, istilah kerennya cutloss.

Pertanyaannya? Loh kok bisa ya, seorang ibu rumah tangga seperti Bu Silvi yang jelas-jelas pemahaman sahamnya tidak sebaik suaminya bisa memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar dari suaminya? 111% vs 35% keuntungan mereka selisih 76% selama 5 tahun.

Dalam kesempatan ini saya hendak menyampaikan bahwa, untuk mencari saham perusahaan bagus itu sebenarnya relative mudah, Anda juga bisa mengetahui informasi ini dari banyak sumber. Tapi kenapa hasil setiap orang di saham yang sama bisa berbeda? Banyak orang berpikir bahwa hanya orang-orang pintar saja yang bisa berhasil dalam investasi saham, padahal faktanya gak seperti itu. Memang kalau IQ tinggi akan membantu Anda lebih cepat memahami saham, namun kalau bicara sukses dalam investasi saham masih ada faktor lain yang lebih dominan. Apa itu? Faktor psikologi yaitu Kesabaran.

Bersabar untuk mau menyimpan saham perusahaan bagus yang Anda punya dalam waktu yang lebih lama bertahun tahun. Dimana kebanyakan dari para pelaku saham saat ini lebih senang melakukan jual beli saham dengan alasan agar hasilnya maksimal dan cepat dapat untung, padahal belum tentu seperti itu.