1. Yossy Girsang
  2. Pemula
  3. Tips Memulai Investasi Reksadana

Artikel

9Jun 2016

Tips Memulai Investasi Reksadana

investasi-reksadana-5

Di Fanspage saya www.facebook.com/yossygirsangsaham, beberapa kali saya menyarankan rekan-rekan untuk terlebih dahulu mencoba tabungan berjangka, deposito dan reksadana sebelum terjun ke investasi saham. Mengapa demikian?
Jawabannya untuk mendapatkan “feel” dari investasi itu seperti apa.

Terus terang saya belajar investasi juga bukan karena diajak keluarga atau teman, namun lebih karena keinginan dari dalam, saya ingin hidup saya lebih baik dan lebih baik hingga saya pensiun, tua nanti. Sehingga pada waktu itu yang ada dipikiran saya adalah bagaimana agar uang yang sudah saya kumpulkan dari bekerja bisa berlipat lipat lagi. Dan pada waktu pikiran itu tercetuskan, informasi yang mudah saya terima pada waktu itu adalah mengenai tabungan berjangka dan deposito.

Saya kira ke-2 produk ini tidak perlu saya jelaskan terlalu detail ya, jika anda bertanya ke customer service sebuah bank, pasti mereka akan memberikan informasi yang lebih komplit lagi. Intinya kalau Anda berinvestasi di tabungan berjangka maka yang akan anda peroleh ada imbal hasil atau return atau bunga sekitar 1-2% setahun. Sedangkan untuk deposito akan memperoleh sekitar 5-6% setahun. Walaupun bunga yang anda peroleh dari kedua instrumen ini kecil bahkan di bawah inflasi yang hampir 10% setahun, saya tetap menyarankan Anda untuk mulai dari sini dulu.

Karena biasanya yang sering terjadi, banyak dari kita masih sulit untuk menyisihkan dana untuk investasi. Orang masih lebih mudah dipaksa untuk membayar cicilan untuk membeli barang-barang konsumtif daripada berinvestasi. So, kalau belum pernah berinvestasi sama sekali, silahkan dicoba dulu tabungan berjangka dan deposito ya.

Nah sekarang, bagaimana dengan reksadana?
Ok, mudahnya saya jelaskan reksadana itu seperti ini. Jadi Anda punya sejumlah uang, lalu uang tersebut Anda percayakan kepada sekumpulan orang-orang yang jago dalam bidang investasi, sering disebut Manajer Investasi (MI) untuk mereka kelola ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi atau surat utang dan deposito. Dengan harapan dengan kemampuan yang mereka miliki, maka uang yang Anda titipkan akan semakin bertambah nilainya, misalnya sebelumnya Anda titipkan 1 juta setelah setahun menjadi 1.1 juta bahkan lebih.
Nah nama produk investasi yang dikelola oleh Manajer Investasi itulah yang disebut sebagai reksadana. Jadi investasi melalui reksadana ini sangat cocok buat Anda yang belum paham tentang investasi saham dan obligasi, biarkan orang-orang yang mengerti dan terpercaya untuk mengelola uang Anda. Yang pasti karena Anda dibantu, maka Anda pun harus memberikan fee (ongkos) untuk para Manajer Investasi ini yang nilainya bervariasi mulai dari 0.5%-2.5% dari total uang yang Anda setor.

Perlu Anda ketahui bahwa satu Manajer Investasi bisa jadi mengeluarkan beberapa produk reksadana yang berbeda beda.
Jadi yang perlu Anda lakukan untuk bisa mulai berinvestasi di reksadana adalah mencari kantor Manajer Investasi ini. Nah kabar baiknya, saat ini Anda tidak perlu bersusah payah untuk mencari kantor mereka, karena sudah banyak Manajer Investasi yang bekerja sama dengan Bank BUMN ataupun Swasta yang membantu mereka untuk menjual reksadana, jadi bank-bank tersebut menjadi sales dari Manajer Investasi tersebut. Contoh Banknya? Banyak, Anda bisa search di google, saya kasih contoh yang saya tahu ada Bank Mandiri, Bank Commonwealth dan Bank OCBC NISP. Jadi Anda tinggal datang saya ke Bank tersebut dan Anda tanya: “Pak/Bu saya mau beli reksadana,” nanti mereka akan bantu Anda.

Seperti yang saya jelaskan di bawah Manajer Investasi itu sangat banyak di Indonesia, ada puluhan dan bahkan mungkin ratusan jumlah, jadi nanti pas Anda tanya ke Bank mau beli reksadana, mereka pasti akan menyodorkan ke Anda sejumlah produk reksadana yang dikelola oleh berbagai Manajer Investasi tersebut.
Ada beberapa jenis reksadana yaitu:
Reksadana Pasar Uang, dimana seluruh uang yang dikumpulkan oleh Manajer Investasi dimasukkan ke dalam deposito, SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan obligasi (surat utang pemerintah dan perusahaan).
Reksadana Pendapatan Tetap, dimana minimal 80% dari dananya dimasukkan ke obligasi
Reksadana Campuran, dimana dananya dimasukkan dalam obligasi dan saham
Reksadana Saham, dimana minimal 80% dari dananya dimasukkan dalam saham.

Nah, sekarang dari ratusan produk reksadana yang ada, bagaimana cara memilihnya?
Yang pertama, kalau Anda hendak investasi dalam jangka panjang hingga di atas 10 tahun saya sangat amat menyarankan pilihlah jenis reksadana saham, karena reksadana saham memiliki imbal hasil atau return terbesar dibanding yang tiga lainnya. Saya pribadi juga masih menyimpan reksadana saham untuk jangka panjang.

Nah, untuk mengetahui saham apa saja yang dibeli oleh Manajer Investasi, anda bisa baca di prospektus mereka. Prospektus itu berisi penjelasan detail tentang saham yang dipilih hingga berapa persen porsi antar saham yang mereka beli. Nah, biasanya kalau Anda mau baca prospektus, sebenarnya Anda sudah mulai belajar Investasi Saham, Anda akan dapat clue mana saja saham yang sebenarnya bagus sehingga dipilih oleh banyak Manajer Investasi.

Oh ia, enaknya lagi kalau Anda mau berinvestasi di reksadana Anda butuh modal awal yang lebih sedikit dibanding dengan deposito dan saham. Untuk buka rekening investasi reksadana cukup 500 ribu, sedangkan harga per unit reksadana yang dijual sekitar 200 ribu ke atas. Terjangkau khan?

Nah, ada cara mudah lagi untuk tahu reksadana mana yang bagus, ada bisa lihat histori imbal hasil atau return mereka di 5 tahun terakhir, 3 tahun terakhir atau 1 tahun terakhir. Anda bisa buka di website www.infovesta.com. Di website ini Anda langsung bisa membandingkan return antar berbagai produk reksadana. Yang akan Anda pilih? Tentunya yang memberikan return terbaik dalam 5 tahun terakhir atau 3 tahun terakhir, bahkan kalau bisa 1 tahun terakhir.
Bagaimana dengan reksadana yang masih berusia di bawah 1 tahun? Hmm, mending gak usah dibeli dulu deh, belum terbukti soalnya, daripada nebak-nebak, iya gak?