Gede Utangnya, Tapi Masih Wajar? Ini Ciri-Ciri Utang Emiten yang Nggak Bikin Panik

Last modified date

Banyak yang mikir, “Kalau perusahaan banyak utang, berarti bahaya dong?”
Eits, tunggu dulu! Nggak semua utang itu buruk, kok. Bahkan perusahaan besar kayak BBRI atau TLKM pun pasti punya utang. Tapi, yang penting itu seberapa sehat dan wajarnya utang tersebut.

Yuk, kita bahas ciri-ciri utang emiten yang masih bisa dibilang “aman dan terkontrol” — biar kamu nggak asal panik saat baca laporan keuangan! 📉➡📈


1. Debt to Equity Ratio (DER) di Bawah 1–2x

DER itu rasio utang terhadap modal sendiri. Kalau nilainya masih di bawah 1–2x, artinya perusahaan pakai modal sendiri lebih banyak daripada utang.

Contoh: DER 0,8 artinya utangnya 80% dari modal sendiri. Masih aman, bro!

Catatan: Industri keuangan (kayak bank) biasanya punya DER lebih tinggi, tapi tetap dianggap wajar dalam konteks industrinya.


2. Bisa Bayar Bunga dan Pokok Utang

Cek interest coverage ratio atau kemampuan bayar bunga. Kalau labanya masih cukup buat nutup beban bunga tiap tahun, berarti utangnya masih manageable.

Idealnya, laba operasional minimal 3x lebih besar dari beban bunga tahunan.


3. Utangnya Dipakai Buat Hal Produktif

Kalau utangnya dipakai buat ekspansi usaha, beli mesin baru, bangun pabrik, atau akuisisi yang bikin pendapatan naik — itu utang yang sehat.

Red flag kalau utangnya cuma buat nutupin kerugian atau utang sebelumnya (gali lubang tutup lubang 🕳️).


4. Arus Kas Operasional Positif

Mau seberapa besar utangnya, kalau perusahaan tetap punya cash flow positif dari operasional, berarti bisnisnya tetap ngasih duit buat bayar utang. Ini tanda utangnya nggak nyekek.


5. Jatuh Tempo Masih Lama

Perhatikan juga struktur jatuh tempo utangnya. Kalau utangnya jangka panjang, artinya perusahaan punya waktu buat nyicil dan muterin modal dulu.

Bahaya kalau utangnya numpuk di jangka pendek dan nggak ada cadangan kas yang cukup.


6. Manajemen Terbuka Soal Utang

Emiten yang sehat biasanya transparan soal strategi manajemen utangnya. Misal, mereka jelasin dalam laporan tahunan bahwa:

  • Sumber pelunasan sudah disiapkan,
  • Utang punya bunga tetap (nggak terpengaruh suku bunga global),
  • Utang dalam mata uang yang stabil (nggak terlalu banyak utang dolar kalau pendapatannya rupiah).

7. Bandingkan dengan Industri Sejenis

Nggak bisa asal nilai wajar atau enggaknya utang tanpa lihat peer group. Misal:

  • Perusahaan konstruksi wajar punya utang gede karena proyek jangka panjang.
  • Tapi kalau perusahaan ritel utangnya gede banget, baru deh patut curiga.

Kesimpulan:

Utang itu ibarat pisau: kalau dipakai dengan bijak, bisa bantu masak. Tapi kalau ngawur, bisa melukai diri sendiri. Makanya, sebelum invest, pastikan kamu ngerti struktur utang dan kesehatan keuangan emitennya. Jangan asal lihat angka gede langsung takut — cek dulu konteks dan tujuannya.

Afditya Imam