1. Yossy Girsang
  2. Pemula
  3. Bisa Untung Bisa Rugi

Artikel

9Jun 2016

Bisa Untung Bisa Rugi

Semua investasi tentu punya resiko, apalagi semakin tinggi imbal hasil yang diperoleh (return) maka resiko rugi juga pasti akan lebih besar. Jadi jangan pernah percaya kalau ada yang menawarkan Anda produk investasi yang memberikan return tinggi tapi tapi gak ada resiko sama sekali, kemungkinan besar sih itu adalah investasi bodong alias penipuan.
Nah, kembali ke investasi saham, saya juga hendak memberikan gambaran apa saja yang menjadi imbal hasil dari investasi saham itu lalu apa saja resiko-nya.
Mengenai imbal hasil, maka investasi saham akan memberikan Anda return dari dua sumber, yaitu:

1. dari kenaikan harga saham (capital gain)

2. dari pembagian laba usaha (dividen)

Arti dari kedua sumber ini bisa diambil contoh yang mirip misalnya dengan “Membeli ruko untuk disewakan”. Jadi, kenaikan harga ruko setiap tahun bisa kita umpamakan dengan kenaikan harga saham (capital gain), sedangkan uang sewa ruko yang diterima bisa diumpamakan dengan pembagian laba usaha (dividen).
Saya coba ambil kasus nyata yaitu salah satu saham perusahaan yang ada di Bursa Efek Indonesia: PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dengan kode saham ICBP. Perusahaan ini memproduksi mie instant yang sudah sangat dikenal masyarakat indonesia yaitu indomie dan pop mie.

Saham ICBP di november 2012 harganya Rp 7,000 per lembar, dan setelah satu tahun yaitu Nov 2013 menjadi Rp. 10,000 per lembar, artinya ada kenaikan harga saham selama setahun sebesar Rp 3,000.
Dan ternyata ada pembagian dividen sebesar Rp 186 per lembar saham di Juli 2013.

Sehingga total imbal hasil atau return yang diperoleh oleh Investor dalam 1 tahun adalah Rp 3,186 atau dalam presentasi adalah 3,186/7000 x 100% = 45.51%, gimana lumayankan?
Artinya jika Anda membeli saham ini sebanyak 1 lot atau 500 lembar dengan uang sebesar 7,000 x 500 = 3,5 juta maka dalam setahun menyimpan saham ini Anda akan memperoleh imbal hasil sebesar 45.51% x 3,5 juta = 1.6 juta rupiah.

Oh ia, perlu Anda ketahui biasanya perusahaan yang ada di Bursa Efek Indonesia membagi dividen nya kepada investor sebanyak dua kali dalam setahun, biasanya sih pertama di tengah tahun dan yang kedua di akhir tahun.
Namun tidak ada aturan bahwa perusahaan harus membagi dividen kepada investornya, ada juga perusahaan yang tidak membagi, loh kenapa tidak dibagi ya?
Ada 2 alasannya, yang pertama tentunya karena perusahaan merugi sehingga tidak ada uang yang bisa dibagi, dan yang kedua karena perusahaan membutuhkan dana untuk ekspansi atau memperluas bisnisnya sehingga laba usaha yang sudah dihasilkan dipakai dulu.
Sekarang kita bicara tentang resiko.

Yang bisa buat investor rugi tentunya adalah penurunan harga saham.
Contoh nyatanya adalah saham PT Bakrieland Development Tbk dengan kode saham ELTY.
Di Januari 2012, harga saham ELTY Rp 140 per lembar, dan setahun kemudian yaitu Jan 2013 turun menjadi Rp 55 per lembar. Artinya ada penurunan harga saham sebesar 85 rupiah atau kalau dipresentasikan = (85/140 x 100%) = 60.71 %. Jadi kalau Anda beli saham ini di awal Jan 2012 sebanyak 2 juta rupiah, lalu Anda jual setahun kemudian di Jan 2013, artinya Anda merugi sebesar 1.2 juta rupiah dan sisa uang Anda tinggal 800ribu rupiah. Wah itu namanya mimpi buruk.

Itulah fakta dari pasar saham, kadang mengalami periode kenaikan harga saham dan kadang juga mengalami periode penurunan harga saham. Dan karakteristik tiap-tiap saham yang ada di pasar saham juga berbeda, tergantung bagus atau tidak perusahaan tersebut. Biasanya untuk perusahaan yang mampu mencetak laba walaupun ada kalanya harga sahamnya turun, namun biasanya akan naik lagi, tetapi untuk perusahaan yang merugi biasanya kalau harga sahamnya turun akan sulit untuk naik lagi, contohnya saham ELTY di atas hingga saat ini Nov 2013 harga sahamnya masih saja Rp 50.
Jadi Investasi saham itu selain memiliki imbal hasil yang tinggi juga mengandung resiko yang tinggi, itulah kenapa seorang investor saham harus benar-benar tahu dulu saham apa yang akan dibeli sebelum membelinya.