1. Yossy Girsang
  2. investasi

investasi

16Oct 2013

Kok Judi sih?

card

Misalkan ada 3 penawaran usaha yang datang ke Anda agar Anda mau ikut berinvestasi.

Yang pertama, usaha warung sate kambing, yang kedua usaha warung mie bakso dan yang ketiga usaha tambal ban.

Katakanlah ke-3 usaha ini sebenarnya sdh berjalan sekitar 3 tahun, namun karena kekurangan modal untuk mengembangkan usaha, maka para pemilik awal usaha mengajak anda untuk bergabung dengan cara menyetor sejumlah dana dan Anda pun turut memiliki usaha tersebut.

Kira-kira apa yang akan anda lakukan untuk bisa memutuskan usaha mana yang akan Anda pilih?

Ya tepat sekali! Survey, Tanya sana Tanya sini. Langsung berkunjung ke lokasi usaha dan mencari informasi sebanyak mungkin mengenai ke-3 usaha yang sdh berjalan ini.

Anda mungkin akan menanyakan berapa penjualannya tiap bulan, biaya operasional per bulan, keuntungan (laba) bersih per bulan, dan biasanya anda akan langsung turun ke lapangan melihat bagaimana kondisi warung nya, apakah betul-betul ramai pengunjung atau tidak.

Anda tentu tidak mau langsung percaya dengan omongan dari pemilik usaha tersebut. Setelah Anda yakin benar bahwa usaha tersebut bisa menghasilkan laba, mampu bertahan dan memiliki masa depan untuk jangka panjang, barulah Anda putuskan akan membeli usaha yang mana.

Kalau ternyata dari ke-3 usaha tersebut hanya 2 saja yang benar-benar menghasilkan keuntungan yaitu usaha sate kambing dan tambal ban, lalu bagaimana cara Anda memilih dari antara ke-2 usaha ini? Anda pasti akan memilih usaha yang memberi keuntungan bersih yang lebih besar dan konsisten per bulannya.

Dalam hal ini kita bisa kategorikan usaha itu sehat dan baik secara fundamental.

Nah, kalau saja Anda asal pilih saja tanpa melakukan survey dan mempelajari usaha-usaha tersebut sebelum membeli, itu artinya anda gambling alias bermain judi. Ibarat bermain kartu, Anda berharap memperoleh kartu 5 hati agar bisa menang, namun karena Anda menerima kartu dalam kondisi tertutup, Anda tidak tahu apakah kartu itu akan sesuai dengan harapan anda atau tidak. Anda hanya pasrah dengan nasib, dan bermodalkan doa saja, disinilah yang dinamakan situasi judi/gambling.

Sayangnya di pasar modal, banyak orang yang nekat melakukan jual beli investasi saham tanpa mencari informasi terlebih dahulu apakah perusahaan tersebut sehat atau tidak.

Mereka tidak kenal bisnis perusahaan tersebut, tidak kenal siapa dan bagaimana manajemennya, dan apakah perusahaan itu mencetak laba atau merugi terus.

Sebenarnya ada beberapa pialang atau perusahaan sekuritas yang memiliki analis yang berkompeten untuk melakukan analisa terhadap perusahaan-perusahaan yang ada di BEI. Namun, Anda tetap harus hati-hati karena ada saja analis yang mengeluarkan rekomendasi dengan tujuan agar Anda lebih aktif bertransaksi. Tidak bisa dipungkiri bahwa faktanya perusahaan sekuritas memperoleh keuntungan dari fee jual beli saham yang dilakukan oleh investornya.

Jadi saya pribadi tetap menyarankan anda perlu melakukan penelitian versi Anda sendiri. Bagaimana cara mengetahui mana saham dari perusahaan yang sehat dan berfundamental baik? Saya akan bahas di artikel yang berbeda di level mahir.

4Oct 2013

Beli rumah tanpa nyicil?

Seorang karyawan perusahaan farmasi, Sandy, sudah bekerja di perusahaan yang berlokasi di Cikarang itu selama kurang lebih 8 tahun. Ia masuk pertama sekali sebagai staff laboratorium tahun 2002 dan mendapat gaji sebesar 1.5 juta per bulan, dan sampai sekarang Oct 2010 karirnya naik beberapa kali dan dipercaya sebagai Riset Engineer dengan gaji 4 juta per bulan.

Setiap bulan, dengan susah payah dan displin tinggi, ia berusaha menyisihkan 10-15% dari gajinya untuk disimpan di bank dalam bentuk tabungan berjangka. Jadi setiap akhir bulan tanggal 25 waktunya gajian, sebagian gajinya otomatis ditransfer ke dalam rekening tabungan itu. Bahkan bonus yang didapatnya setiap tahun hampir 50% juga di masukkan ke deposito bank.

Karena  disiplin, selama 8 tahun terakhir Sandy bisa mengumpulkan uang sebesar 50 juta rupiah.

Sudah menjadi keinginannya mulai dari zaman kuliah D3 dulu untuk bisa cepat lulus dan dapat kerja,  lalu langsung  kerja dan mulai mengumpulkan uang untuk nantinya dibelikan rumah, entah itu rumah baru ataupun bekas buat keluarganya.

Keluarganya dulu sempat punya rumah sendiri yang dibeli ayahnya waktu masih aktif kerja sebagai karyawan di perusahaan Jepang, tapi akhirnya harus dijual untuk membayar biaya obat sakit radang paru-paru ayahnya.

Itulah kenapa keinginannya sebagai anak paling besar sangat kuat, Ia ingin membuat orang tua dan adik-adiknya bangga punya rumah kembali,  gak harus ngontrak terus. Dia pingin nantinya uang yang dikumpulkan bisa cukup untu bayar uang muka (DP) 25% kalau harga rumah yang mau dibeli sekitar 200 juta rupiah dengan cara KPR (Kredit Pemilikan Rumah).

Sandy pun mulai keliling untuk cari informasi di daerah Cikarang, dia tahu ada banyak perumahan di daerah itu, salah satunya yang bagus dan terkenal yaitu Perumahan Lippo Cikarang (LPCK). Perumahan itu sangat tertata rapi dan punya fasilitas oke mulai dari rumah sakit, water park, bahkan sport center. Dia yakin keluarganya pasti akan sangat senang kalau bisa tinggal di daerah itu.

Dengan perasaan senang dan tidak sabaran, dia pun langsung mendatangai bagian penjualan dan marketing untuk memastikan berapa harga rumah baru yang mereka jual. Begitu mendengar infonya, ia sangat terkejut, apa??? rumah ukuran 45 m2 (2 kamar tidur, 1  kamar mandi) dengan luas tanah 100m2 harganya sudah 350 jeti! Gawat.

Itu artinya, kalau dia mau ngambil KPR di bank dengan uang muka 50 juta dan bunga KPR 10% per tahun, cicilannya bisa sampai 3 juta per bulan selama 15 tahun, waduh. Gaji 4 juta, cicilan 3 juta, berarti sisa 1 juta apa cukup ya untuk biaya bulanan keluarga?

Pastinya bank juga akan sulit menerima dan menyetujui pengajuan KPR, karena ada aturan di bank kalau mau nyicil, maksimal cicilan 50% dari gaji per bulan.

Sebenarnya Sandy juga sudah berusaha mencari rumah bekas di sekitar perumahan ini, tapi  tetap saja harganya tidak terlalu terpaut jauh dengan rumah baru, bahkan kadang lebih mahal karena sepertinya pemilik rumah tidak benar-benar niat menjual rumah, kata mereka harga masih akan naik lagi, jadi kalau mau ya beli harga yang mereka mau.

Akhirnya, mau tidak mau ia mengurungkan niatnya untuk membeli rumah. Ditunda dulu deh, pikirnya demikian, sambil lanjut lagi nabung di bank.

Pertumbuhan properti di daerah Cikarang memang cukup pesat mulai dari awal tahun 2010, belum lagi permintaan yang cukup tinggi dari keluarga muda yang bekerja di area industri di Cikarang tsb.

Mungkin ini pulalah yang bikin harga-harga rumah di daerah tersebut naik tinggi hampir setiap tahun.

Menurut Anda, apakah keputusan Sandy untuk tetap lanjut menabung di bank adalah tepat? Apakah nantinya dengan cara ini ia akan sanggup membeli rumah di Lippo Cikarang? Jawabannya pasti tidak, karena apa?

Karena bunga yang didapat dari bank setahunnya hanya sekitar 2-3%, padahal kenaikan harga properti di daerah spt itu bisa sampai 15-20% setahun. Artinya menunggu hingga bertahun-tahun ke depan, akan sulit buat untuk bisa mengumpulkan uang yang cukup kecuali karirnya bis naik cepat sampai ke level manager/direktur dan menerima gaji puluhan juta, tentunya itu juga butuh waktu, mengingat saat ini background pendidikannya masih D3.

Sebenarnya, Sandy tahu tentang  perkembangan properti yang sangat cepat mulai tahun 2010, namun ia tidak tahu bahwa sebenarnya dia bisa ikut menikmati keuntungan dari perkembangan ini, yaitu dengan membeli saham perusahaan properti itu. Saham yang bagus salah satunya adalah saham Lippo Cikarang (LPCK). Dimana sekiranya ia membeli saham LPCK, itu berarti ia telah menjadi investor sekaligus pemilik perusahaan ini walaupun jumlah saham yang dimiliki sedikit.

Jika saja ia paham tentang investasi saham dan membeli saham Lippo Cikarang (LPCK) di awal tahun 2011 di harga 400 rupiah per lembar, maka dia dapat menjual sahamnya di Oct 2013 ini seharga 5000 rupiah per lembar.

Artinya keuntungan yang bisa didapat sekitar  1175% selama hampir 3 tahun. Jadi dengan uang sebesar 50 juta di awal tahun 2011, di Oct 2013 uang itu akan menjadi 587 juta rupiah atau naik 11.75 kali.

Dan tentunya rumah yang diinginkan itu akan bisa dibayar cash tanpa harus Kredit.

Saya sendiri sebagai seorang investor saham jangka panjang ikut menikmati keuntungan dari kenaikan saham dan perkembangan yang cepat di dunia properti. Saya lebih memilih untuk membeli saham perusahaan properti tersebut daripada membeli rumah dari perusahaan tsb untuk dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

Jual beli rumah juga tidak mudah, butuh waktu dan tenanga, bandingkan dengan memegang saham yang setiap saat bisa dijual di pasar saham, banyak yang mau beli.

Belum lagi modal yang dibutuhkan untuk jual beli properti pasti akan jauh lebih besar, bisa sampai ratusan juta bahkan miliaran rupiah, bandingkan dengan modal membeli 1 lots saham properti spt saham Lippo Cikarang yang hanya berkisar 200,000 rupiah untuk minimum pembelian 1 lot (500 lembar) di tahun 2011.

Di setiap kesempatan mengajar, saya selalu menyarankan agar para calon investor saham tetap mengingat bahwa di balik saham sebenarnya ada bisnis yang sedang bertumbuh dan membutuhkan waktu, artinya semakin lama dipegang akan semakin baik. Perlakukanlah saham yang Anda beli sebagai bisnis Anda yang dijalankan oleh perusahaan tanpa Anda harus ikut membagi pikiran dan tenaga.