1. Yossy Girsang
  2. Image

Image

14Mar 2018

Masihkah Generasi Muda punya mimpi?

Screen Shot 2018-03-14 at 12.38.20

Topik kali ini agak serius sedikit, namun buat rekan-rekan yang sudah menjadi orangtua seperti saya dan aware dgn tantangan masa depan anak-anak kita, ada baiknya menonton video presentasi Christine Lagarde, Managing Director IMF di event World Economic Forum 2018 dengan judul: Young People Might Not Recover, A Dream Deferred.

Saya berusaha menterjemahkan seluruh content yg disampaikan dalam bahasa Indonesia, semoga membantu.

Ke depan, saya akan membahas lebih mendalam dan dgn bahasa lebih sederhana di artikel yossygirsang.com mengenai beberapa point penting dalam presentasi ini dan strategi apa yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan setidaknya untuk anak-anak kita yg berkaitan dengan keuangan.
Karena dari IMF lebih banyak memberikan solusi di level policy maker (pemerintah).

————————————————————————————————————————————————————————

Penyair Langston Hughes pernah bertanya, “Apa yang terjadi dengan MIMPI yang TERTUNDA?” Ini adalah pertanyaan yang relevan bagi jutaan orang di seluruh dunia saat ini, terutama generasi muda, karena ketidaksetaraan dan kemiskinan.
Pekan ini, IMF meluncurkan penelitian baru yang fokus pada Uni Eropa yang menyoroti dampak pengangguran dan konsekuensi jangka panjang dari perlindungan sosial yang tidak memadai terhadap kaum muda. Studi ini juga membahas gagasan yang dapat membantu memperbaiki masalah dan mengurangi ketidaksetaraan dan kemiskinan bagi generasi penerus.
Eropa tentu bukan satu-satunya wilayah di mana orang muda menghadapi hambatan ini. Namun, karena keterbatasan data pada kelompok usia selama beberapa tahun terkahir maka kita baru dapat melihat lebih dekat ke Eropa.
Sekilas, ketidaksetaraan tampaknya tidak menjadi ancaman besar di Eropa seperti di tempat lain. Ketidakseimbangan pendapatan rata-rata tetap stabil sejak tahun 2007. Hal ini sebagian besar berkat jaring pengaman sosial dan redistribusi yang kuat, pencapaian penting yang telah membantu jutaan orang dan memperkuat posisi Eropa dibandingkan dengan banyak negara maju lainnya.
Di bawah angka topline, bagaimanapun, ada kecenderungan mengkhawatirkan: kesenjangan antara generasi di Eropa telah melebar secara signifikan. Orang usia kerja, dan terutama generasi muda, jauh tertinggal.
Tanpa tindakan, generasi mungkin tidak akan bisa pulih.
Bagaimana kita bisa sampai disini?
Apa yang telah mendorong ketidaksetaraan antar generasi di Eropa? Meskipun ada banyak dimensi ketidaksetaraan – termasuk kekayaan dan jenis kelamin – studi kami fokus terutama pada INCOME (penghasilan).
Penghasilan untuk generasi muda menurun setelah krisis 2007 karena pengangguran. Walau sudah pulih, namun belum bertumbuh. Padahal penghasilan generasi tua di atas 65 tahun meningkat sebesar 10 persen karena dana pensiun yang sudah terproteksi lebih baik.
Melihat pasar kerja, kita bisa melihat dimana masalah berada. Pengangguran usia muda mulai tinggi dan melonjak 24 persen di 2013. Saat ini, hampir satu dari lima pemuda di Eropa masih mencari pekerjaan.
Penelitian IMF menunjukkan bahwa pengangguran dapat meninggalkan “bekas luka”: biasanya setelah lama menganggur dan pengalaman yang terbatas, generasi muda cenderung tidak mau mencari pekerjaan. Kalaupun mereka mendapatkan pekerjaan, kemungkinan hanya akan di pekerjaan dengan upah rendah.
Generasi muda memiliki utang yang paling tinggi terhadap aset mereka dibanding semua kelompok umur. Ini berarti bahwa mereka lebih rentan jatuh miskin jika terjadi krisis ekonomi. Sehingga pada akhirnya mereka tidak hanya menunda mimpi-mimpinya bahkan mengubur mimpi tersebut.
Namun masalah income hanya satu bagian cerita: masalah lain adalah kemiskinan
Semakin rendah Penghasilan, semakin banyak terjadi kemiskinan
Sebelum krisis ekonomi global 2008, perbandingan kemiskinan antara generasi muda (18-24) dan generasi tua (65 +) di Eropa masih hampir sama. Namun sejak krisis, kesenjangan semakin terlihat jelas. Sebagai konsekuensinya, satu dari empat generasi muda berisiko mengalami kemiskinan – hidup dengan penghasilan di bawah 60 persen dari rata-rata.
Bukan hanya masalah pengangguran yang membawa kondisi ini. Tetapi juga pekerjaan dengan Upah rendah dan sistem kontrak juga menjadi pemicu masalah.
Munculnya apa yang disebut “Gig”ekonomi, dimana pekerja bertanggung jawab pada dirinya sendiri dengan berbagai pekerjaan paruh waktu (atau freelance) yang tidak menyediakan manfaat dasar seperti asuransi kesehatan & pensiun (contoh Uber driver), memperburuk masalah dan semakin memicu kondisi bekerja yang tidak stabil, terutama bagi generasi muda. Sayangnya, saat mereka harus kehilangan pekerjaan atau hanya bisa menemukan pekerjaan paruh waktu, mereka ditinggalkan tanpa jaring pengaman yang memadai seperti asuransi kesehatan.
Perlindungan sosial yang tidak memadai
Selain masalah pendapatan dan pasar tenaga kerja ini, setelah krisis, manfaat sosial non-pensiun seringkali dibatasi, dan terkadang juga tidak terindeks pada inflasi. Sehingga kurang efektif untuk generasi muda.
Supaya lebih jelas lagi: program pensiun dan jaminan sosial telah membantu jutaan orang sebelum dan sejak krisis. Secara khusus, warga generasi senior di Eropa telah terlindungi dengan baik – yang seharusnya terus dilanjutkan. Tapi pada saat bersamaan, kita juga membutuhkan kebijakan yang lebih memperhatikan generasi muda dan cocok dengan sifat pekerjaan yang sudah berubah saat ini.
Kabar baiknya adalah beberapa negara di Eropa sudah menunjukkan kemajuan.
Di Jerman, magang dan program pelatihan yang telah lama ada telah membantu generasi muda untuk bertahan di dunia kerja. Aturan kerja fleksibel memungkinkan mereka untuk mempertahankan pekerjaan mereka selama dan setelah krisis. Pemuda Jerman sekarang memiliki tingkat pengangguran terendah di negara Uni Eropa manapun.
Contoh bagus lainnya adalah Portugal, yang membebaskan orang yang baru pertama kali bekerja dari pajak jaminan sosial selama tiga tahun.
Langkah selanjutnya untuk generasi muda
Jadi, apa yang seharusnya pembuat kebijakan atau pemerintah lakukan? Kami menawarkan beberapa gagasan yang dapat membantu mengurangi ketidaksetaraan dan kemiskinan antar generasi di Eropa.
Pertama, lihatlah pasar tenaga kerja. Untuk menciptakan lapangan kerja dan memberi insentif kepada pekerjaan, pembuat kebijakan dapat mengurangi kontribusi jaminan sosial dan pajak pekerja dengan upah rendah. Untuk membantu memperbaiki prospek pekerjaan di masa depan, pemerintah dapat berinvestasi dalam pendidikan dan pelatihan, yang dapat membantu generasi muda menutup kesenjangan skill atau keterampilan.
Kedua, Negara dapat membuat budget pemerintah untuk perlindungan sosial lebih efektif. Bagaimana? Sebagian dari jawabannya adalah menyesuaikan belanja sosial, terutama pengangguran dan manfaat non-pensiun lainnya, untuk memastikan generasi muda lebih terlindungi jika terjadi kehilangan pekerjaan.
Ketiga, Pajak. Pajak kekayaan sekarang lebih rendah daripada tahun 1970. Di beberapa negara, sistem perpajakan yang lebih progresif dan pajak kekayaan (termasuk pajak warisan) dapat membantu mendanai program sosial yang sangat dibutuhkan bagi warga yang lebih muda.
Biarkan saya menggarisbawahi lagi: ini bukan tentang satu kelompok usia dibandingkan yang lain. Membangun ekonomi yang bekerja untuk generasi muda menciptakan fondasi yang lebih kuat bagi semua orang. Generasi muda dengan karir produktif dapat berkontribusi pada jaring pengaman sosial. Dan mengurangi ketidaksetaraan antar generasi berjalan seiring dengan menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan membangun kembali kepercayaan di dalam masyarakat.
Semua ini tidak mudah. Kebijakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara, mengenali realitas politik, dan bertahan dalam anggaran.
Tapi tidak ada keraguan bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk bertindak – “waktu untuk memperbaiki atap adalah saat matahari bersinar.”
Dengan pertumbuhan global yang lebih kuat, dan pemulihan di Eropa, kita memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal sulit yang jika tidak bisa dibatalkan. Kita bisa merancang kebijakan yang akan memungkinkan generasi penerus untuk mewujudkan potensinya. Kita bisa membantu menyembuhkan bekas luka krisis, dan kita bisa memastikan generasi penerus tidak perlu mengajukan pertanyaan: “Apa yang terjadi dengan mimpi yang TERTUNDA?”