1. Yossy Girsang
  2. Lanjutan
  3. Krisis keuangan justru menjadi kesempatan terbaik untuk seorang Investor Saham, Mengapa?

Artikel

15Mar 2018

Krisis keuangan justru menjadi kesempatan terbaik untuk seorang Investor Saham, Mengapa?

Screen Shot 2018-03-15 at 23.05.00

Apakah Anda masih ingat krisis ekonomi tahun 2008?, ketika panik jual terjadi di seluruh pasar saham dunia. Saya masih ingat hingga sekarang karena pada waktu itu saham perusahaan yang saya miliki juga turun signifikan. Sehingga wajar saja trauma itu masih terbayang di alam bawah sadar para pelaku saham. Kalau Anda ikut mailing list pada waktu itu, Anda akan membaca banyak sekali email yang berisi kekecewaan dan negative word karena bisa dikatakan hampir semua orang merasakan rugi yang tidak sedikit, termasuk saya.

Krisis finansial tidak mudah diprediksi, bahkan saat ini di tahun 2018, ada yang mengatakan akan mengalami krisis seperti tahun 2008, ada juga yang mengatakan tidak dengan alasan dan analisa masing masing yang menurut saya sah sah saja. Tapi saya pribadi selaku Investor Saham yang berpegang pada intrinsic value, justru melihat bahwa krisis adalah kesempatan besar untuk meraih keuntungan besar di masa depan, karena ketika banyak orang yang ikut menjual karena panik justru pada saat itulah kita bisa menemukan dengan mudah harga saham yang terdiskon atau jauh di bawah intrinsic value. Kejadian 2008, saat itu saya diuntungkan karena memperoleh cash yang lumayan besar dari penghasilan lain yang tidak bisa saya jelaskan ini. Sehingga pada waktu itu saya berkesempatan membeli saham yang terdiskon. Namun yang perlu dicatat, setelah saya beli pun di harga yang lebih murah dari intrinsic value, ternyata harga saham masih saja turun, seingat saya sekitar 20%-an dari setelah saya beli. Dan ini wajar saja terjadi, karena tidak satu orang pun dari kita yang bisa tahu seberapa dalam harga saham bisa turun. Yang penting kita tetap berpegang pada intrinsic value, bahwa ketika kita sudah beli di bawah intrinsic value, dan harga saham masih turun, kita tidak perlu khawatir.

Pada waktu 2008 itu, saya berusaha untuk tetap tenang, walau tidak mudah. Ada satu alasan kuat yang menyebabkan saya bisa tenang pada waktu itu.

Yaitu, memang sebelum terjun ke dunia investasi saham saya sudah cukup banyak membaca buku buku tentang value investor terutama filosofi yang disampaikan oleh Warren Buffett sebagai Investor Saham terbaik sepanjang masa. Salah satu pesan dari salah satu buku yang saya baca adalah, jauhkan dirimu dari hiruk pikuk pasar saham, terutama hindari berada di lingkungan para pelaku pasar saham yang mudah panik dan cepat sekali merespond situasi pasar secara berlebihan. Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih untuk tinggal di Bali, bahkan di daerah yang cukup sepi, agar saya bisa berpikir rasional dan tetap tenang.

Sudah jauh dari hiruk pikuk pasar saham juga tidak mudah untuk tidak tergoda untuk mengikuti kondisi psikologi market, karena saat ini jaringan komunikasi lewat social media sudah murah dan mudah. Contohnya beberapa minggu yang lalu ketika iHSG turun cukup signifikan, sudah banyak dari rekan-rekan saya yang bertanya baik telepon maupun whatsup menanyakan apakah harga saham sudah murah atau apakah akan terjadi penurunan lagi dsb. Yang mau gak mau memancing saya untuk kembali mengecek kondisi market waktu itu.

Panik itu ternyata secara psikologis bisa menular. Hal ini dikonfirmasi oleh Tim peneliti dari Cumming School of Medicine’s Hotchkiss Brain Institute (HBI), University of Calgary yang menemukan fakta bahwa stress berupa kecemasan/panik bisa menular melalui interaksi sosial. Hal ini terjadi akibat dari aktivitas neuron CRH yang menyebabkan pelepasan sinyal kimiawi sehingga terjadi proses penularan ke pihak lain yang turut mendengar dan merasakan kondisi emosional tersebut. Itulah mengapa, ketika krisis tahun 2008 terjadi, banyak pelaku pasar saham yang walaupun sudah lama berada di pasar saham, tetap saja ikut menjual sahamnya di harga yang murah karena takut harganya akan turun lagi.